Archive for October, 2005

The Incredible Professor

Thursday, October 27th, 2005

Reveal the History, The Series:

IMAM GHAZALI - HUJJATUL ISLAM
(Mujaddid kurun ke-5)

"Bumi ini tidak akan kosong dari penegak kebenaran hujjah ALLAH, supaya hujjah-hujjah dan agama ALLAH tidak sirna, mereka itu orang-orang yang paling sedikit jumlahnya dan paling tinggi derajatnya di sisi ALLAH."
(Sayidina Ali bin Abi Thalib KMW - Riwayat Abu Nu’aim)

"Pada ratus (tahun) kelima ialah Si Tinta Al Ghazali. Dia terhitung tanpa ada bantahan, tanpa iri"
(Imam Sayuti - Tuhfah Al Muhtadin bi Asma’ Al Mujaddidin)

Namanya Muhammad bin Muhammad Abu Hamid Al Ghazali. Lahir di
Thurs (450H/1058M) dan wafat 505 Hijriah di Baghdad. Beliau berada di satu
zaman yang mana telah timbul bermacam-macam firqah dan mazhab. Di dalam kitab Al
Munkizu minal dhalal
, lmam Ghazali menyebut di antara golongan-golongan
yang menonjol di waktu itu:

  1. Golongan Mutakallimun (ahli ilmu kalam - ilmu sifat 20) yaitu mereka yang menganggap dirinya sebagai ahli fikir dan ahli bahasa).
  2. Golongan batiniah yaitu mereka yang merasakan dirinya orang-orang yang menerima pelajaran (ta’lim) hanya khusus dari imam yang maksum.
  3. Golongan filosof yaitu mereka yang menganggap dirinya sebagai ahli logika dan ahli pemberi keterangan.
  4. Golongan sufi dan mistik yaitu mereka yang menganggap dirinya dapat mencapai muqarrabat (dekat pada Allah). Dan juga ahli pengamat dapat memeriksa dan melahirkan sesuatu.

Selain itu para ulama fiqih lalai dengan mujadalah
(berdebat) hingga lalai beramal serta cinta dunia seperti berebut-rebut untuk
jadi ulama raja di istana. Para pengikut dan
orang ramai pula fanatik dengan mazhab masing-masing. Sebagian ahli-ahli
sufinya sudah mabuk dengan rasa (zauk). Oleh itu, ada kalanya tindakan mereka
sudah tidak selaras dengan ilmu syariat yaitu hukum-hakam yang berhubung dengan
persoalan lahiriah (fiqih). Setengah mereka hanya dapat menghafal
istilah-istilah sufi, tanpa menghayatinya. Namun mereka merasa dalam kebenaran.

lmam Ghazali lahir di tengah-tengah perpecahan umat zamannya itu. Beliau
tidak tertarik untuk menyertai golongan manapun, sebaliknya mengambil inisiatif
untuk mengkaji tiap-tiap golongan tadi. Beliau mengkaji bersungguh sungguh
hinggalah ke akar umbinya sesuatu golongan itu. Al hasil bertemulah oleh beliau
salah silap, kelemahan, malah kesesatan yang dilakukan oleh golongan umat Islam
tadi. Dengan itu dapatlah beliau mencari dan memberi jawaban serta membuat perbaikan
di samping menunjukkan jalan bagaimana mencari kebenaran.

lmam Ghazali waktu itu sedang menjadi mahaguru (professor) di sekolah tinggi
Nizhomiah. Muridnya sekitar 300 orang. Setelah melakukan muhasabah (mengkaji)
diri sendiri, beliau merasakan ia juga tidak lepas daripada tujuan mencari nama
dan jawatannya yang begitu tinggi di bidang ilmu pengetahuan Islam. Beliau merasa
dirinya tertipu dengan amalan baiknya itu. la pun rasa cemas dan takut. Takut
kalau-kalau di waktu itulah dia menemui Allah, pastilah dia akan mendapat
kemurkaan Allah. Akhirnya jiwanya pun bergolak bersama dilema antara ingin
teruskan kariernya di Madrasah Nizhomiah atau pergi berkelana, beruzlah untuk
membaiki diri. Pergolakan ini terjadi selama 6 bulan. Pemuncak dari konflik
jiwa ini ialah lidahnya tidak dapat bercakap lagi. Akhirnya dia menyerah bulat
pada Allah dan bertekad untuk beruzlah, pergi menghabiskan masa untuk
mujahadatun nafsi dan beribadah pada Allah.

Sebelum berangkat untuk herkelana dan beruzlah, segala harta kepunyaannya
dibagi-bagikan kepada anggota masyarakat yang memerlukan bantuan., Sebagian
dihantar ke baitulmal, sebagian ditinggal untuk keluarga. Sebagian lagi dibawa
berkelana. Beliau beruzlah tidak kurang 10 tahun lamanya dengan melakukan
ibadah, baca AI-Quran, zikir, serta membersih hati daripada sifat mazmumah. Di
antara tempat yang beliau sempat beruzlah ialah:

  1. Di atas menara masjid Damsyik.
  2. Di Kubah Masjid Baitul Maqdis.
  3. Di Tanah suci Mekah sambil menunaikan haji dan ziarah maqam Rasulullah S.A.W.
  4. Di Baghdad (yakni di negara sendiri untuk terus beruzlah dan berkhalwat)

Selepas 10 tahun beruzlah itulah lmam Ghazali dapat kekuatan
jiwa yang luar biasa. Allah perlihatkan perkara perkara yang pelik dan ghaib,
seperti melihat para Malaikat dan ruh Nabi secara jaga (yakazhah), serta
mendengar ucapan-ucapan mereka. Dan dalam uzlah atau selepas uzlah inilah
beliau dapat menulis sebuah kitab agung yang terkenal dan terus dibaca hingga ke hari ini, terutama di kalangan mazhab Syafi’i, yaitu Ihya’ Ulumiddin, (menghidupkan
ilmu-ilmu agama). Di dalamnya setiap jurusan ilmu pengetahuan diuraikan tentang
hikmah-hikmahnya, diberi ruh dan jiwa. Dalam Ihya’ ini jugalah lmam Ghazali
mempersatukan semula 3 bahagian ilmu yaitu usuluddin, fiqih dan tasauf dalam
teori dan amalannya, menjadi 3 sahabat yang tidak boleh dipisah-pisahkan.
Dan
selepas uzlah jugalah, setelah jiwa jadi kuat, hati bersih hingga memperolehi
bermacam-macam rahasia ilmu pengetahuan serta sedikit rahasia tentang alam
ghaib beliau tampil semula ke tengah masyarakat, mengajar dan memimpin
masyarakat.

Jasa lmam Ghazali dapat mengurai segala kekusutan ilmu pengetahuan Islam di
zamannya serta dapat pula memimpin umat Islam kembali pada kesatuan ummah dan
kebenaran Islam serta mengajak manusia beribadah dan berakhlak adalah jasa
besar yang tidak akan terbuat oleh seorang ulama biasa. Kedatangannya membawa
pendekatan dan teknik yang tepat untuk menyelesaikan masalah umat serta mengisi
keperluan mereka itulah yang membolehkan beliau sendiri mengakui bahwa
beliaulah mujaddid kurun ke-5.

[Taken from "Siapa Mujaddid Kurun ke-15", by Syeikh Imam Ashaari Ibn Muhammad At Tamimi]

Mystery of Human Creature

Friday, October 21st, 2005

Mystery of Human Creature

Apa yang terbayang dalam pikiran kita jika kita mendengar kata "kerajaan"? Tentu kita akan terbanya sosok seorang raja yang berkuasa, istana, para pengawal atau tentara kerajaan, rakyat jelata dsb. Demikianlah dalam diri kita, sebenarnya tidak jauh berbeda..

Raja dalam diri manusia adalah Hati atau jiwa/ruh.

Raja memberi perintah, rakyat melaksanakan. Jika raja perintahkan berbuat baik, rakyat berbuat baik, begitu juga sebaliknya. Kita pasti pernah mengalami kedua keadaan berikut. Pertama, kita sadar suatu perbuatan itu tidak benar tapi kita lakukan juga. Misalnya, bohong atau nyontek. Kedua, kita ingin melakukan sesuatu tapi tidak kita lakukan. Misalnya, nggak makan ketika berpuasa. Begitulah peranan hati, sang raja dalam diri, dialah yang akan menentukan suatu perbuatan dilaksanakan atau tidak

Kemudian dalam suatu kerajaan pastilah ada badguy-nya, entah apa jabatannya. Bisa menteri, pejabat, preman, maling…apa sajalah. Kalo mereka bisa mempengaruhi raja maka raja akan mengikuti kehendak mereka. Akhirnya raja perintahkan berbuat kejahatan. Itulah kiasan untuk sifat asal Nafsu. Nafsu yang tidak terdidik selalunya mengajak kepada kejahatan.
“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan.” (Yusuf: 53)

Di dalam sebuah kerajaan juga ada para ulama/ilmuwan penasehat raja. Mereka akan memberi penilaian secara ilmu, baik atau buruk, benar atau salah kepada raja. Jika mereka berwibawa maka raja kan mengikuti nasehat mereka. Jika mereka tidak berwibawa maka raja tidak akan mendengar mereka. Apalagi jika mereka tidak cukup ilmu, untuk membedakan baik-buruk saja tidak akan bisa. Itulah Akal dan peranannya

Begitulah yang Tuhan ajarkan kepada kita, sehingga kita paham apa sebenarnya proses yang terjadi dalam diri kita. Jika kita tidak diberitahu-Nya, maka selamanya kita hanya bisa melihat efek dan gejalanya sambil mereka-reka, mengapa ada manusia yang baik ada juga yang jahat, ada yang bertanggung jawab ada yang tidak, ada yang ramah ada yang pemarah, begitulah seterusnya. Kita akan mempelajari secara statistik, efek atau gejala yang timbul dalam diri manusia namun tidak mampu mengungkap apa yang menjadi sumber gejalanya. Itulah ilmu psikologi. Maka dari hasil olah pemiran akal yang tidak merujuk kepada ilmu wahyu  itulah muncul ide-ide semacam psikoanalisis, pengkondisian, humanisme, dsb. Semua hanya mampu melihat kepada hal-hal luaran saja. Padahal bisa jadi suatu sikap yang sama adalah hasil dari dua bentuk interaksi hati-akal-nafsu yang berbeda. Contoh, seseorang yang bersikap bertanggung jawab bisa merupakan sebuah persembahan kepada Tuhan sebagai satu bentuk ibadah atas dasar cinta dan takut kepada-Nya. Namun bisa jadi karena jaga imej atau ada kepentingan, ingin pujian, ingin dianggap berjasa, ingin dianggap pahlawan, dsb. Jika demikian maka kemurkaan-Nya lah yang kita dapatkan.
Sebenarnya sikap mental manusia adalah pergantung kepada interaksi ketiga unsur ruhaniah itu. Ketiganya bisa sailing bersekutu. Baik atau buruk tergantung pihak mana yang besekutu. Bahkan jika sampai jika akal justru bersekutu dengan nafsu yang jahat maka hasilnya kan semakin rusak merusakkan. Teknologi cybersex adalah jadi contoh mudahnya.

Kalaulah kita coba pahami sedikit tentang ilmu wahyu ini, maka kita akan lebih pandai menyikapi bermacam2 gejala sosial. Dari narkoba, perjudian, kejahatan seksual sampai pembunuhan. Dari nyontek ujian sampai korupsi bertrilyun-trilyun. Dari pencurian ayam di kampung sampai kesewenang-wenangan para penguasa. Dari tawuran anak sekolah sampai perang dunia. Sudah terlalu banyak orang yang menuntut agar hukum dan keadilan ditegakkan. Kita pun ingin hidup bebas dari kejahatan. Tapi rupa-rupanya kita tidak paham bahwa semua itu hanya gejala saja. Ibarat infeksi tenggorokan, karena tidak paham, maka diobati dengan obat demam. Begitu juga penyakit masayarakat, yang sebenarnya adalah gagalnya mendidik nafsu. Penyebab utamanya adalah karena tidak kenal diri. Jika tidak mengenal bagaimana akan mendidik? Di sekolah2 dan di kampus2 juga tidak diajarkan. Bahkan serinnya justru nafsu yang dipupuk dan disuburkan. Ego, kebanggaan, rasa kagum dengan diri sendiri, merasa hebat, merasa pahlawan, dll tidak dipahami sebagai asas kejahatan. Oleh karena itu, marilah kita kenali diri kita, semoga keselamatan untuk kita di dunia dan akhirat :)

The Promised Man

Friday, October 21st, 2005

Reveal the History, The Series:

IMAM SAYUTI RAHIMAULLAHUTAALA
(Mujaddid kurun ke-9) 

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada awal setiap seratus tahun orang yang akan memperbaharui urusan agamanya.”
(HR. Abu Daud, At-Tabari, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Hajar dan Al Iraqi)

Nama sebenarnya adalah Abdur Rahman Jalaludin Assayuti.
Dilahirkan pada 849 H di negeri Mesir di satu daerah bernama Asyut. Dari nama tempat inilah beliau diberi
gelaran As Sayuti. Beliau berada di kemuncak perjuangannya pada awal kurun ke 9
H dan wafat pada tahun 911 H. Sepanjang hayatnya selama 62 tahun itu lmam
Sayuti berada di tengah-tengah kemunduran Islam dan umat Islam. Baghdad sudah hampir 200
tahun dijajah oleh Mongol di bawah pimpinan Hulagu. Segala khazanah ilmu
pengetahuan dan peradaban Islam habis dimusnahkan. Ulama-ulama banyak yang
dibunuh. Maka umat Islam kocar-kacir dan kacau-balau di bumi sendiri. Suasana
politik senantiasa bergolak, bertukar ganti dan tidak menentu selama hayatnya.
lmam Sayuti menyaksikan naik turunnya 13 orang raja yang memerintah Mesir.
Semuanya dari keturunan Al-Mamalik (hamba). Pernah dalam setahun Mesir
diperintah oleh 3 orang raja.

Corak pemerintahan raja-raja ini penuh dengan penzaliman dan penindasan. Mereka
mengambil segala kemudahan dan kesenangan hidup dengan sesuka hati. Tanah-tanah
yang subur mereka miliki. Masyarakat Mesir waktu itu terbagi kepada 4 golongan yang nyata :

  1. Golongan raja dan para pemerintah. Orang keturunan Mamalik ini merupakan golongan yang paling istimewa, menikmati macam-macam kemudahan dan kesenangan hidup. Tanah-tanah yang subur dibagi kepada golongan ini.
  2. Golongan dewaniah yakni para fuqaha’, ahli-ahli sastrawan dan penulis-penulis. Golongan ini memegang kuasa kehakiman, mengajar, memberi petua, berpidato dan menulis untuk mengkayakan khazanah ilmu pengetahuan. Mereka ditakuti oleh pemerintah karena dimuliakan oleh semua lapisan rakyat. Jadi raja-raja pun mengadu-dombakan antara ulama-ulama. Jawatan-jawatan mereka dijatuh dan dinaikkan sesuka hati. Ada yang dua tiga kali naik turun dari jawatan kehakiman.
  3. Saudagar-saudagar. Golongan ini menggunakan kekayaan mereka untuk mempengaruhi raja dengan tujuan mendapat kedudukan yang istimewa. Maka raja pun ambil kesempatan untuk menekan mereka dengan cukai yang tinggi.
  4. Golongan peladang, petukang, ahli-ahli pasar penjual kecil dan penjual air, merupakan golongan yang amat susah dan perit. Raja-raja tak ambil tahu hal mereka malah menghina mereka.

Dalam keadaan masyarakat yang begitu renggang, pecah belah
dan rusak, politiknya pula kotor dan huru-hara, ilmu pengetahuan berkembang
dengan maju dan jayanya. Keadaan ini berlaku adalah disebabkan oleh beberapa
faktor:

  1. Oleh karena keganasan Mongol di Timur maka ulama-ulama dari sana berhijrah ke Mesir, Syam dan selatan Maghribi. Begitu juga ulama-ulama di barat, turut berhijrah ke sana
         karena lari dari kekejaman Asbania (Spanyol).
  2. Terbangunnya banyak gedung-gedung ilmu di sekolah sekolah, di masjid-masjid, khutub-khanah sebelum kerajaan Mamalik.
  3. Banyaknya harta-harta kebajikan yang diwakafkan untuk para guru dan pelajar. Wakaf-wakaf ini dibuat oleh pemerintah, orang kaya, ulama dan ahli perniagaan yang ingin mencari keredhaan Allah.
  4. Pengarang-pengarang ghairah menulis kitab-kitab dan kamus sebagai gantian kepada khazanah yang dimusnahkan oleh orang-orang Mongol dan pihak Kristian.

Di tengah-tengah gelombang masyarakat yang begitulah lmam
Sayuti lahir dan bangun. Dia berhadapan dengan agama Islam yang telah
dilemahkan oleh Mongol dan Kristian, dengan politik yang kacau, ulama yang lupa
daratan, ahli perniagaan yang korup dan dengan rakyat jelata yang terhimpit.
Maka untuk menyelesaikan kekusutan itu, Allah bekalkan dia ilmu yang mengatasi ilmu-ilmu ulama sezaman.

llmunya bertaraf Mujtahid Mutlak
. Dengan keupayaan itu lmam Sayuti dapat
menyadarkan ulama-ulama itu tentang peranan mereka yang sebenarnya dan tentang
kelalaian yang telah menghantui jiwa mereka.

Allah hiaskan juga diri peribadi lmam Sayuti dengan sufi yang tinggi. Dalam
kitab Al Mizanul Kubra dikatakan lmam Sayuti pernah bertemu Rasulullah
secara jaga (yakazhah) sebanyak 75 kali. Dengan pengalaman kerohanian yang luar
biasa itu, raja-raja yang memang bimbang dengan ulama, menjadi lebih takut dan
segan dengan lmam Sayuti. Ini membuatkan raja-raja itu mau juga mendengar dan
menghormati ajaran-ajaran Islam yang dikatakan oleh beliau.

Dengan ilmu dan ketokohan beliau lmam Sayuti memperjuangkan Islam ke tengah
masyarakat Islam Mesir waktu itu. Dengan saran-sarannya yang berani dan tegas
beliau telah berhasil meniupkan rasa keyakinan dan semangat juang di hati
rakyat Mesir. Mereka-mereka yang selama ini tertindas, lemah jiwa dan susah,
telah sedikit sebanyak dapat dikuatkan jiwa untuk menjadi umat yang gagah dan
mampu berdikari. lmam Sayuti juga diberi Allah kemampuan untuk menulis kitab,
guna menggantikan kitab kitab yang dimusnahkan oleh Mongol dan pihak Kristian
.
Sejak berumur 40 tahun hinggalah wafat beliau mengurung diri di rumah untuk
menulis. llmunya yang bertaraf mujtahid mutlak itu mengizinkan beliau menulis
kitab sebanyak-banyaknya yang mungkin. Dari riwayat yang diperoleh, hasil
tulisan lmam Sayuti ialah sebanyak 600 (enam ratus) buah.

Kalaulah tidak lahir seorang yang serba bisa seperti lmam Sayuti di kurun ke 9
Hijriah itu, tentu umat Islam akan terus porak-peranda dan menderita. Tapi
Allah menyayangi umat Islam, maka sesuai janji-Nya  lahirlah di awal kurun
itu seorang Mujaddid yang Mujtahid untuk umat itu. Dengan kepemimpinan, didikan
dan pelajaran yang diberikan, hidup kembalilah agama dan agak pulihlah umat
dari penyakit yang menyerang mereka. lmam Sayuti menyadari pemberian Allah itu
dan meyakini pula bahwa dirinyalah ditugaskan untuk menjayakan maksud itu. Maka
dengan rendah hati telah menulis dalam kitab Al Raddhu ‘Ala Man Akhlada Hal Ardh: "Akulah
mujaddid kurun ke 9 Hijrah."

[Taken from "Siapa Mujaddid Kurun ke-15", by Syeikh Imam Ashaari Ibn Muhammad At Tamimi]