Mystery of Human Creature
Mystery of Human Creature
Apa yang terbayang dalam pikiran kita jika kita mendengar kata "kerajaan"? Tentu kita akan terbanya sosok seorang raja yang berkuasa, istana, para pengawal atau tentara kerajaan, rakyat jelata dsb. Demikianlah dalam diri kita, sebenarnya tidak jauh berbeda..
Raja dalam diri manusia adalah Hati atau jiwa/ruh.
Raja memberi perintah, rakyat melaksanakan. Jika raja perintahkan berbuat baik, rakyat berbuat baik, begitu juga sebaliknya. Kita pasti pernah mengalami kedua keadaan berikut. Pertama, kita sadar suatu perbuatan itu tidak benar tapi kita lakukan juga. Misalnya, bohong atau nyontek. Kedua, kita ingin melakukan sesuatu tapi tidak kita lakukan. Misalnya, nggak makan ketika berpuasa. Begitulah peranan hati, sang raja dalam diri, dialah yang akan menentukan suatu perbuatan dilaksanakan atau tidak
Kemudian dalam suatu kerajaan pastilah ada badguy-nya, entah apa jabatannya. Bisa menteri, pejabat, preman, maling…apa sajalah. Kalo mereka bisa mempengaruhi raja maka raja akan mengikuti kehendak mereka. Akhirnya raja perintahkan berbuat kejahatan. Itulah kiasan untuk sifat asal Nafsu. Nafsu yang tidak terdidik selalunya mengajak kepada kejahatan.
“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan.” (Yusuf: 53)
Di dalam sebuah kerajaan juga ada para ulama/ilmuwan penasehat raja. Mereka akan memberi penilaian secara ilmu, baik atau buruk, benar atau salah kepada raja. Jika mereka berwibawa maka raja kan mengikuti nasehat mereka. Jika mereka tidak berwibawa maka raja tidak akan mendengar mereka. Apalagi jika mereka tidak cukup ilmu, untuk membedakan baik-buruk saja tidak akan bisa. Itulah Akal dan peranannya
Begitulah yang Tuhan ajarkan kepada kita, sehingga kita paham apa sebenarnya proses yang terjadi dalam diri kita. Jika kita tidak diberitahu-Nya, maka selamanya kita hanya bisa melihat efek dan gejalanya sambil mereka-reka, mengapa ada manusia yang baik ada juga yang jahat, ada yang bertanggung jawab ada yang tidak, ada yang ramah ada yang pemarah, begitulah seterusnya. Kita akan mempelajari secara statistik, efek atau gejala yang timbul dalam diri manusia namun tidak mampu mengungkap apa yang menjadi sumber gejalanya. Itulah ilmu psikologi. Maka dari hasil olah pemiran akal yang tidak merujuk kepada ilmu wahyu itulah muncul ide-ide semacam psikoanalisis, pengkondisian, humanisme, dsb. Semua hanya mampu melihat kepada hal-hal luaran saja. Padahal bisa jadi suatu sikap yang sama adalah hasil dari dua bentuk interaksi hati-akal-nafsu yang berbeda. Contoh, seseorang yang bersikap bertanggung jawab bisa merupakan sebuah persembahan kepada Tuhan sebagai satu bentuk ibadah atas dasar cinta dan takut kepada-Nya. Namun bisa jadi karena jaga imej atau ada kepentingan, ingin pujian, ingin dianggap berjasa, ingin dianggap pahlawan, dsb. Jika demikian maka kemurkaan-Nya lah yang kita dapatkan.
Sebenarnya sikap mental manusia adalah pergantung kepada interaksi ketiga unsur ruhaniah itu. Ketiganya bisa sailing bersekutu. Baik atau buruk tergantung pihak mana yang besekutu. Bahkan jika sampai jika akal justru bersekutu dengan nafsu yang jahat maka hasilnya kan semakin rusak merusakkan. Teknologi cybersex adalah jadi contoh mudahnya.
Kalaulah kita coba pahami sedikit tentang ilmu wahyu ini, maka kita akan lebih pandai menyikapi bermacam2 gejala sosial. Dari narkoba, perjudian, kejahatan seksual sampai pembunuhan. Dari nyontek ujian sampai korupsi bertrilyun-trilyun. Dari pencurian ayam di kampung sampai kesewenang-wenangan para penguasa. Dari tawuran anak sekolah sampai perang dunia. Sudah terlalu banyak orang yang menuntut agar hukum dan keadilan ditegakkan. Kita pun ingin hidup bebas dari kejahatan. Tapi rupa-rupanya kita tidak paham bahwa semua itu hanya gejala saja. Ibarat infeksi tenggorokan, karena tidak paham, maka diobati dengan obat demam. Begitu juga penyakit masayarakat, yang sebenarnya adalah gagalnya mendidik nafsu. Penyebab utamanya adalah karena tidak kenal diri. Jika tidak mengenal bagaimana akan mendidik? Di sekolah2 dan di kampus2 juga tidak diajarkan. Bahkan serinnya justru nafsu yang dipupuk dan disuburkan. Ego, kebanggaan, rasa kagum dengan diri sendiri, merasa hebat, merasa pahlawan, dll tidak dipahami sebagai asas kejahatan. Oleh karena itu, marilah kita kenali diri kita, semoga keselamatan untuk kita di dunia dan akhirat