Archive for November, 2005

A Question of A Life Time (1)

Saturday, November 26th, 2005

Dapat kita lihat berbagai macam aktivitas yang dilakukan manusia di muka bumi ini. Berbeda orang berbeda juga yang dilakukannya. Setiap perbuatan kita tentu ada maksud dan tujuannya. Tujuan-tujuan itu tidak terlepas dari pemahamanan kita akan suatu fenomena. Ketika manusia menyadari fenomena dirinya adalah makhluk hidup, maka kita akan lihat bahwa hampir seluruh aktivitas yang dilakukan oleh manusia adalah untuk mempertahankan eksistensinya. Tapi pengertian eksistensi ini ternyata berbeda-beda. Bagi sebagian manusia eksistensinya adalah cukup sekedar hidup jasad lahiriahnya. Bagi sebagian yang lain, baru merasa eksis jika ide-ide dan pemikirannya hidup. Sementara sebagian yang lain, eksistensi diri adalah penguasaan sumberdaya alam, ekonomi atau ilmu pengetahuan, kekuasaan atas manusia lain, pengakuan masyarakat berupa gelar, jabatan atau popularitas. Masih banyak lagi hal-hal yang dinilai sebagai parameter eksitensi diri seorang anak manusia. Maka berlomba-lombalah manusia mengejar itu semua.

Semua berawal dari bagaimana manusia menyikapi fenomena bahwa dirinya adalah sesuatu yang hidup yang memiliki kesadaran dan kemampuan untuk merekayasa alam di sekitarnya. Tapi ternyata hasilnya, justru kita lihat sebuah sejarah peradaban manusia yang kelam dan bergelimang air mata dan darah. Setiap orang menginginkan kebahagiaan dan bukan air mata, tapi mengapa sedikit sekali orang yang mendapatkan dalam hidupnya? Di manakah letak kesalahan bangsa manusia yang sudah ribuan tahun hidup di muka bumi ini?

Jika kita tarik perjalanan peradaban manusia ini, semuanya akan kembali pada sebuah titik. Di titik inilah segala sesuatunya berawal. Titik ini adalah sebuah pertanyaan: "Mengapa manusia hidup?" Disadari atau tidak, setiap manusia akan menjawab pertanyaan ini sebelum melangkah lebih jauh dalam kehidupannya. Sebuah pertanyaan sederhana yang akan mencorak seluruh perjalanan hidup seorang manusia. Tepat menjawab pertanyaan ini maka tepatlah perjalanan hidupnya. Gagal menjawab pertanyaan ini maka gagallah hidupnya.

Maka bagi sebagian manusia yang menyadari pentingnya untuk menjawab pertanyaan ini, berlomba-lombalah mereka menjawabnya. Sudah ribuan tahun sejak kompetisi ini dimulai. Mereka inilah golongan filsuf dan inilah yang menjadi akar ilmu filsafat. Kegelisahan para filsuf akan makna kehidupan membawa mereka pada pergolakan yang tidak pernah berakhir. Itulah mengapa filsuf-filsuf klasik di era Yunani bahkan sampai ke abad pertengahan, banyak berorientasi pada gagasan akan adanya sesuatu penjelasan yang bisa menjawab setiap pertanyaan dalam hidup manusia. Berbagai jawaban sudah dilontarkan tapi kegelisahan itu justru menjadikan dari satu pertanyaan berkembang menjadi jutaan, milyaran, trilyunan. Dan hasilnya, sejarah panjang kegelisahan para filsuf yang dalam beberapa abad terakhir filsafat berkembang semakin pragmatis yang akhirnya melahiran ideologi2 modern yang juga gagal menghadirkan kebahagiaan dalam peradaban manusia. Dalam satu abad terahir saja sudah berapa ideologi berkuasa di muka bumi ini. Hasilnya: dua kali perang dunia, kelaparan, keterbelakangan, pertentangan antar klas sosial, pemusnahan etnis dan sebagainya. Dalam lingkup yang lebih kecil: pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, perampokan, korupsi, inflasi, kerusuhan massal, terorisme, suicide bombing adalah sajian sehari-hari di layar televisi kita.

Maka lagi-lagi berlomba-lombalah manusia mencari solusinya. Sebagaian ahli mengatakan karena lemahnya law enforcement, yang lainnya menyebutkan kesenjangan sosial adalah penyebabnya, yang lainnya lagi menuduh adanya sebuah konspirasi internasional yang mendalanginya. Bermacam-macam usaha pun dicoba. Hasilnya, manusia masih belum bahagia. Masih  tetap seperti ribuan tahun silam, masih berkubang darah dan air mata.

Permasalahan manusia tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan permainan tambal sulam. Ibarat kanker ganas yang tidak akan pernah bisa disembuhan dengan sekedar pembedahan, kemoterapi dan radiasi jika ketidakseimbangan tubuh yang memunculkan kanker itu tidak kembalikan seperti sediakala. Kita harus mencari solusi permasalahannya sampai ke satu titik pusat segala permasalahan. Kita harus menyelusuri kembali perjalanan pemikiran manusia, ideologi, sejarah dan filsafat hingga kita kembali pada satu titik yang dari sanalah segalanya dimulai. Satu titik sederhana dan kita akan mengambil arah yang berbeda: "Mengapa manusia hidup?"

[continued to part 2...]

A Question of A Life Time (2)

Saturday, November 26th, 2005

Setiap manusia menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan itu akan diperoleh jika manusia berhasil mencapai tujuan hidupnya. Artinya, berhasil atau tidaknya manusia memperoleh kebahagiaan manusia juga ditentukan dari pertanyaan yang sama: "Mengapa manusia hidup?"  Jika manusia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan fungsi dan tujuan keberadaan dirinya maka terjadi malfungsi. Jika sesuatu gagal berfungsi sebagaimana fungsi yang seharusnya, maka rusaklah dia. Jika manusia yang rusak, maka manusia tidak akan merasa bahagia.

Bagaimanakah umumnya manusia menjawab pertanyaan  yang mendasar tersebut? Tiap individu mungkin punya jawabannya sendiri. Namun kita bisa temukan persamaan-persamaannya dan mengolongkan manusia berdasarkan tujuan hidupnya. Dapat kita simpulkan, di seluruh muka bumi ini ada tiga golongan manusia, yaitu:

1. Golongan yang menanggap tujuan hidupnya adalah terpenuhinya segala keperluannya. Dari urusan makan-minum, tempat tinggal, kendaraan, hiburan, berkeluarga, dst. Jika boleh diibaratkan seolah-olah tidak banyak berbeda dengan kehidupan hewan yang sekedar makan minum, berketurunan, kemudian mati. Oleh karena itu golongan ini akan sangat gigih memperjuangkan kemajuan ekonomi walaupun ternyata setelah keinginan-keinginan itu dipenuhi tetap tidak bahagia. Itulah mengapa banyak kasus depresi, kelainan kejiwaan -baik nampak atau tidak-, perceraian, bunuh diri, justru berasal dari komunitas dengan tingkat ekonominya yang cukup baik.

2. Golongan yang menganggap menjadikan tujuan hidupnya selain terpenuhinya keperluan2 hidupnya adalah juga pada kemampuannya untuk menjadi tuan atas manusia lain. Jika diambil perumpamaan adalah ibarat binatang buas yang hidup dari memangsa satwa lain. Golongan ini akan menindas yang pihak lebih lemah, berselisih dengan sesamanya dan berperang dengan pihak yang menentangnya. Maka bisa kita lihat serajah manusia yang tidak pernah lepas dari pembunuhan, penjajahan, perebutan sumberdaya alam, konflik ideolgi, peperangan, pemusnahan etnis, dsb. Sejarah menunjukkan bahwa imperialsme klasik oleh bangsa-bangsa Eropa selama beabad-abad ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan. Satu trial yang terbukti error. Maka dimerdekakanlah negara-negara jajahan mereka. Sebagai gantinya kini imperialisme modern melalui kekuatan ekonomi dilakukan sebagai satu lagi bentuk trial and error. Ternyata menjadi tuan pun bukan sebuah jaminan kebahagiaan.

3. Golongan yang menjadikan tujuan hidupnyanya adalah mencari kemuliaan diri karena prestasi, penghargaan, jabatan, gelar, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, polularitas dan lain sebagainya. Jika dicari ibaratnya adalah seperti pepohonan di hutan. Saling berusaha melebihi satu sama lain untuk mendapatkan cahaya matahari untuk dirinya. Terbentuklah komunitas kanopi yang eksklusif, jauh dari situasi di permukaan tanah yang menjadi tempat tumbuh pepohonan itu sendiri. Maka, manusia akan belomba-lomba memburu kemuliaan diri dalam bermacam bidang. Ilmu pengtahuan, teknologi, kecantikan, kekayaan, kehebatan diri, dsb. Baik secara individu maupun kolektif. Bahkan suatu hal yang umum dijumpai jika satu bangsa merasa paling mulia dibanding bangsa-bangsa lain. Bukankah secara implisit nasionalisme tidak lain adalah chauvinisme? Jika kemuliaan diri adalah kebhagiaan lalu mengapa orang-orang dengan prestasi yang tinggi menjulang, terkenal dan dihormati di masyarakat, juga tidak lepas dari depresi, kesepian, tekanan batin dan gangguan kejiwaan? Mengapa rasa kemuliaan diri suatu bangsa justru seringkali menjadi sumber pertumpahan darah dengan bangsa lain? Di manakah letak kebahagiaan ini sebenarnya? Apakah sebenarnya tujuan hidup manusia?

[continued to part 3...]

A Question of A Life Time (3)

Saturday, November 26th, 2005

"Mengapa manusia hidup?", hanyalah sebuah pertanyaan sederhana,tetapi sepertinya menjadi sangat sulit untuk menjawabnya. Boleh jadi karena kita tidak bisa menangkap satu poin penting yang tersirat dalam pertanyaan itu? Manusia yang hidup. Apakah manusia mengidupkan dirinya sendiri? Apakah manusia mendesain dirinya sendiri: kepala, dua mata, dua tangan, dua kaki, dst? Tentu tidak. Jika tidak, maka manusia adakah yang menciptakan? Tentu saja. Sebagai suatu objek yang terikat oleh ‘timeline’, keberadaan manusia pasti ada yang menciptakan. Berbeda dengan Tuhan yang tidak berada dalam ruang dan waktu (yang juga adalah ciptaan-Nya), sehingga Tuhan dikatakan bersifat Qidam. Artinya, Tuhan ada lebih dahulu daripada semua makhluk/ciptaan, namun keberadaan-Nya tanpa permulaan atau tidak diawali dengan ketiadaan. Dengan demikian keberadaan Tuhan tidak ada yang menjadikan karena Tuhan bukan kejadian.

Jika manusia ada yang menciptakan, maka tentulah jawaban pertanyaan tersebut pihak yang mencitakan manusia. Ciptaan tidak akan mampu menjelaskan untuk apa dia diciptakan. Oleh karena itu, sudah ribuan tahun pun ahli filsafat tidak mampu menjawabnya. Akal kita tidak memiliki jawabannya, karena akal inipun ciptaan yang tidak bahkan tidak bisa menjelaskan untuk apa dia diciptakan. Akhirnya, yang ada hanya jawaban yang menerka-nerka. Mungkin hidup kita untuk ini, untuk itu, dst. Mungkin kita akan bahagia jika kita begini, jika kita begitu. Manusia akan melakukan trial and error sehingga muncullah tiga golongan mayoritas yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya

Meskipun begitu ada sekelompok kecil manusia yang memiliki jawaban yang sebenarnya. Jumlahnya tidak banyak, tapi selalu berperanan sepanjang sejarah peradaban manusia. Mereka inilah para nabi dan rasul. Mereka mampu menjawab pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia manapun juga. Jawaban mereka inilah sebenar-benar jawaban karena jawaban itu datang dari pihak yang menciptakan manusia, Tuhan Semesta Alam. Jika demikain maka marilah kita merujuk kepada Tuhan yang menciptakan kita. Janganlah kita cari jawabannya kepada pihak yang tidak menciptakan kita. Ibarat trouble pada mobil BMW tidaklah kita akan cari solusinya di bengkel Toyota. Lalu apa kata Tuhan, untuk apa sebenarnya kita diciptakan dan dihidupkan di muka buni ini?

Ternyata jawabannya pun juga sederhana:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku"
(Ad Dzaariyaat 56)

Dengan demikian selesailah sudah segala kerancuan sepanjang sejarah manusia. Ternyata alasan keberadaan manusia adalah untuk mengabdi kepada Tuhan yang menciptakannya. Mengabdi kepada Tuhan atau dengan kata lain beribadah kepada-Nya. Mengabdi adalah kata kerja. Pelakunya disebut abdi. Kata lain abdi adalah hamba. Ya, kita memang hamba. Hamba Tuhan, bukan hamba harta, bukan hamba tahta, bukan hamba dunia. Akal kita menrimanya, fitrah kita menerimanya, hati kitapun menerimanya. Seseorang akan senang hati jika disebut sebagai hamba Allah. Bahkan seorang yang gila harta sekalpun. Justru dia akan tersinggung jika dikatakan sebagai hamba harta. Satu-satunya yang menolaknya adalah nafsu yang masih tidak terdidik. Karena memang demikianlah nafsu dijadikan.

Lalu seperti apakah kehidupan seorang hamba itu? Seorang budak disebut juga hamba sahaya, maka kira-kira seharusnya seperti itulah kita sebagai hamba Tuhan. Seorang budak atau hamba tentu sangat hormat kepada tuannya, begitu juga kita dengan Tuhan. Seorang hamba tentu takut dengan ketidakridhoan tuannya, begitu juga kita dengan Tuhan. Seorang hamba tentu sangat merendah diri di hadapan tuannya, tidaklah seorang hamba akan berkacak pinggang dan bekata kasar dengan tuannya. Begitu juga kita dengan Tuhan. seorang hamba tentu akan sangat melayani tuannya, melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk tuannya. Begitu juga kita dengan Tuhan. Itulah sikap seorang hamba. Begitu juga di sisi Tuhan, hal-hal semacam itulah yang disebut penghambaan atau pengabdian atau ibadah. Jika kita ingin jadikan hidup kita tepat segaimana tujuan diadakannya kita, maka jadikanlah segala aktivitas kita lakukan karena Tuhan, sebagai suatu ibadah. Jika yang kita lakukan bukan suatu ibadah maka artinya kita telah mengalami malfungsi. Maka, wajar jika Tuhan tidak anugerahkan kebahagiaan di dalam hati kita.

Lalu apakah yang disebut ibadah itu? Benarkah perintah-perintah yang disebutkan dalam agama, seperti sholat, puasa, zakat, haji, sedekah, mengaji, itukah ibadah?  Apa saja sebenarnya perkara yang disebut ibadah? Ternyata ada tiga kategori ibadah, yaitu:

1. Ibadah Asas yang menjadi rukun Islam, yaitu sholat, puasa, zakat, dan behaji bagi yang mampu. Ibadah inilah yang hukumnya fardhu ain.
2. Ibadah Tambahan berupa perkara-perkara sunat dan fardhu kifayah seperti sembahyang sunat, puasa sunat, dan urusan-urusan kemasyarakatan/hablumminannas
3. Ibadah Umum, yaitu apa saja hal-hal diperbolehkan/mubah  yang tepat niat dan ilmunya. Atau dengan kata lain, dilakukan dengan menempuh 5 Syarat Ibadah, yaitu:
      
     a) Niat karena Allah semata.
     b) Perkaranya dibenarkan
     c) Pelaksanaannya tidak melanggar syariat.
     d) Hasilnya digunakan dengan benar.
     e) Tidak meninggalkan ibadah yang asas (rukun Islam).   

Dengan demikian maka segala aktivitas kita dapat bernilai ibadah. Keleluasaan ekonomi yang dianugerahkan kepada kita bernilai ibadah. Kekuasaan di tangan kita bernilai ibadah. Begitu juga ilmu, keahlian, prestasi dan jabatan yang dititpkan-Nya kepada kita menjadi bernilai ibadah. Karena dalam puncak penghambaanya kepada Tuhan,
manusia memang memiliki satu fungsi khusus yaitu sebagai
pemimpin atau wakil (khalifah) Tuhan di muka Bumi untuk mengatur dan memakmurkannya.

"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang khalifah di muka Bumi." [Al Baqarah: 30]

Dengan menempuh syarat-syarat tersebut, maka perkara dunia tidak lagi bernilai dunia melainkan sudah bernilai ibadah. Tentunya ibadah-ibadah asas jangan sampai justru menjadi perkara dunia karena rusaknya niat atau karena tidak tepat pelaksanaannya.

Akhirnya kehidupan ini serba bernilai ibadah, semua serba ibadah. Sesuailah manusia dengan tujuan diciptakannya. Maka, kehidupan di muka Bumi ini  akan harmonis dan berkasih sayang. Dunia ibarat syurga sebelum Syurga. Inilah kunci kebahagiaan. Sungguh, alangkah indahnya kehidupan ini jika manusia dapat dengan tepat menjawab satu pertanyaan sederhana: "Mengapa manusia hidup?"


-FIN-

[Rewriting of Harmony Motivation Center's concepts]