A Question of A Life Time (1)

Dapat kita lihat berbagai macam aktivitas yang dilakukan manusia di muka bumi ini. Berbeda orang berbeda juga yang dilakukannya. Setiap perbuatan kita tentu ada maksud dan tujuannya. Tujuan-tujuan itu tidak terlepas dari pemahamanan kita akan suatu fenomena. Ketika manusia menyadari fenomena dirinya adalah makhluk hidup, maka kita akan lihat bahwa hampir seluruh aktivitas yang dilakukan oleh manusia adalah untuk mempertahankan eksistensinya. Tapi pengertian eksistensi ini ternyata berbeda-beda. Bagi sebagian manusia eksistensinya adalah cukup sekedar hidup jasad lahiriahnya. Bagi sebagian yang lain, baru merasa eksis jika ide-ide dan pemikirannya hidup. Sementara sebagian yang lain, eksistensi diri adalah penguasaan sumberdaya alam, ekonomi atau ilmu pengetahuan, kekuasaan atas manusia lain, pengakuan masyarakat berupa gelar, jabatan atau popularitas. Masih banyak lagi hal-hal yang dinilai sebagai parameter eksitensi diri seorang anak manusia. Maka berlomba-lombalah manusia mengejar itu semua.

Semua berawal dari bagaimana manusia menyikapi fenomena bahwa dirinya adalah sesuatu yang hidup yang memiliki kesadaran dan kemampuan untuk merekayasa alam di sekitarnya. Tapi ternyata hasilnya, justru kita lihat sebuah sejarah peradaban manusia yang kelam dan bergelimang air mata dan darah. Setiap orang menginginkan kebahagiaan dan bukan air mata, tapi mengapa sedikit sekali orang yang mendapatkan dalam hidupnya? Di manakah letak kesalahan bangsa manusia yang sudah ribuan tahun hidup di muka bumi ini?

Jika kita tarik perjalanan peradaban manusia ini, semuanya akan kembali pada sebuah titik. Di titik inilah segala sesuatunya berawal. Titik ini adalah sebuah pertanyaan: "Mengapa manusia hidup?" Disadari atau tidak, setiap manusia akan menjawab pertanyaan ini sebelum melangkah lebih jauh dalam kehidupannya. Sebuah pertanyaan sederhana yang akan mencorak seluruh perjalanan hidup seorang manusia. Tepat menjawab pertanyaan ini maka tepatlah perjalanan hidupnya. Gagal menjawab pertanyaan ini maka gagallah hidupnya.

Maka bagi sebagian manusia yang menyadari pentingnya untuk menjawab pertanyaan ini, berlomba-lombalah mereka menjawabnya. Sudah ribuan tahun sejak kompetisi ini dimulai. Mereka inilah golongan filsuf dan inilah yang menjadi akar ilmu filsafat. Kegelisahan para filsuf akan makna kehidupan membawa mereka pada pergolakan yang tidak pernah berakhir. Itulah mengapa filsuf-filsuf klasik di era Yunani bahkan sampai ke abad pertengahan, banyak berorientasi pada gagasan akan adanya sesuatu penjelasan yang bisa menjawab setiap pertanyaan dalam hidup manusia. Berbagai jawaban sudah dilontarkan tapi kegelisahan itu justru menjadikan dari satu pertanyaan berkembang menjadi jutaan, milyaran, trilyunan. Dan hasilnya, sejarah panjang kegelisahan para filsuf yang dalam beberapa abad terakhir filsafat berkembang semakin pragmatis yang akhirnya melahiran ideologi2 modern yang juga gagal menghadirkan kebahagiaan dalam peradaban manusia. Dalam satu abad terahir saja sudah berapa ideologi berkuasa di muka bumi ini. Hasilnya: dua kali perang dunia, kelaparan, keterbelakangan, pertentangan antar klas sosial, pemusnahan etnis dan sebagainya. Dalam lingkup yang lebih kecil: pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, perampokan, korupsi, inflasi, kerusuhan massal, terorisme, suicide bombing adalah sajian sehari-hari di layar televisi kita.

Maka lagi-lagi berlomba-lombalah manusia mencari solusinya. Sebagaian ahli mengatakan karena lemahnya law enforcement, yang lainnya menyebutkan kesenjangan sosial adalah penyebabnya, yang lainnya lagi menuduh adanya sebuah konspirasi internasional yang mendalanginya. Bermacam-macam usaha pun dicoba. Hasilnya, manusia masih belum bahagia. Masih  tetap seperti ribuan tahun silam, masih berkubang darah dan air mata.

Permasalahan manusia tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan permainan tambal sulam. Ibarat kanker ganas yang tidak akan pernah bisa disembuhan dengan sekedar pembedahan, kemoterapi dan radiasi jika ketidakseimbangan tubuh yang memunculkan kanker itu tidak kembalikan seperti sediakala. Kita harus mencari solusi permasalahannya sampai ke satu titik pusat segala permasalahan. Kita harus menyelusuri kembali perjalanan pemikiran manusia, ideologi, sejarah dan filsafat hingga kita kembali pada satu titik yang dari sanalah segalanya dimulai. Satu titik sederhana dan kita akan mengambil arah yang berbeda: "Mengapa manusia hidup?"

[continued to part 2...]

Leave a Reply