A Question of A Life Time (2)
Setiap manusia menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan itu akan diperoleh jika manusia berhasil mencapai tujuan hidupnya. Artinya, berhasil atau tidaknya manusia memperoleh kebahagiaan manusia juga ditentukan dari pertanyaan yang sama: "Mengapa manusia hidup?" Jika manusia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan fungsi dan tujuan keberadaan dirinya maka terjadi malfungsi. Jika sesuatu gagal berfungsi sebagaimana fungsi yang seharusnya, maka rusaklah dia. Jika manusia yang rusak, maka manusia tidak akan merasa bahagia.
Bagaimanakah umumnya manusia menjawab pertanyaan yang mendasar tersebut? Tiap individu mungkin punya jawabannya sendiri. Namun kita bisa temukan persamaan-persamaannya dan mengolongkan manusia berdasarkan tujuan hidupnya. Dapat kita simpulkan, di seluruh muka bumi ini ada tiga golongan manusia, yaitu:
1. Golongan yang menanggap tujuan hidupnya adalah terpenuhinya segala keperluannya. Dari urusan makan-minum, tempat tinggal, kendaraan, hiburan, berkeluarga, dst. Jika boleh diibaratkan seolah-olah tidak banyak berbeda dengan kehidupan hewan yang sekedar makan minum, berketurunan, kemudian mati. Oleh karena itu golongan ini akan sangat gigih memperjuangkan kemajuan ekonomi walaupun ternyata setelah keinginan-keinginan itu dipenuhi tetap tidak bahagia. Itulah mengapa banyak kasus depresi, kelainan kejiwaan -baik nampak atau tidak-, perceraian, bunuh diri, justru berasal dari komunitas dengan tingkat ekonominya yang cukup baik.
2. Golongan yang menganggap menjadikan tujuan hidupnya selain terpenuhinya keperluan2 hidupnya adalah juga pada kemampuannya untuk menjadi tuan atas manusia lain. Jika diambil perumpamaan adalah ibarat binatang buas yang hidup dari memangsa satwa lain. Golongan ini akan menindas yang pihak lebih lemah, berselisih dengan sesamanya dan berperang dengan pihak yang menentangnya. Maka bisa kita lihat serajah manusia yang tidak pernah lepas dari pembunuhan, penjajahan, perebutan sumberdaya alam, konflik ideolgi, peperangan, pemusnahan etnis, dsb. Sejarah menunjukkan bahwa imperialsme klasik oleh bangsa-bangsa Eropa selama beabad-abad ternyata tidak mendatangkan kebahagiaan. Satu trial yang terbukti error. Maka dimerdekakanlah negara-negara jajahan mereka. Sebagai gantinya kini imperialisme modern melalui kekuatan ekonomi dilakukan sebagai satu lagi bentuk trial and error. Ternyata menjadi tuan pun bukan sebuah jaminan kebahagiaan.
3. Golongan yang menjadikan tujuan hidupnyanya adalah mencari kemuliaan diri karena prestasi, penghargaan, jabatan, gelar, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, polularitas dan lain sebagainya. Jika dicari ibaratnya adalah seperti pepohonan di hutan. Saling berusaha melebihi satu sama lain untuk mendapatkan cahaya matahari untuk dirinya. Terbentuklah komunitas kanopi yang eksklusif, jauh dari situasi di permukaan tanah yang menjadi tempat tumbuh pepohonan itu sendiri. Maka, manusia akan belomba-lomba memburu kemuliaan diri dalam bermacam bidang. Ilmu pengtahuan, teknologi, kecantikan, kekayaan, kehebatan diri, dsb. Baik secara individu maupun kolektif. Bahkan suatu hal yang umum dijumpai jika satu bangsa merasa paling mulia dibanding bangsa-bangsa lain. Bukankah secara implisit nasionalisme tidak lain adalah chauvinisme? Jika kemuliaan diri adalah kebhagiaan lalu mengapa orang-orang dengan prestasi yang tinggi menjulang, terkenal dan dihormati di masyarakat, juga tidak lepas dari depresi, kesepian, tekanan batin dan gangguan kejiwaan? Mengapa rasa kemuliaan diri suatu bangsa justru seringkali menjadi sumber pertumpahan darah dengan bangsa lain? Di manakah letak kebahagiaan ini sebenarnya? Apakah sebenarnya tujuan hidup manusia?
[continued to part 3...]