A Question of A Life Time (3)

"Mengapa manusia hidup?", hanyalah sebuah pertanyaan sederhana,tetapi sepertinya menjadi sangat sulit untuk menjawabnya. Boleh jadi karena kita tidak bisa menangkap satu poin penting yang tersirat dalam pertanyaan itu? Manusia yang hidup. Apakah manusia mengidupkan dirinya sendiri? Apakah manusia mendesain dirinya sendiri: kepala, dua mata, dua tangan, dua kaki, dst? Tentu tidak. Jika tidak, maka manusia adakah yang menciptakan? Tentu saja. Sebagai suatu objek yang terikat oleh ‘timeline’, keberadaan manusia pasti ada yang menciptakan. Berbeda dengan Tuhan yang tidak berada dalam ruang dan waktu (yang juga adalah ciptaan-Nya), sehingga Tuhan dikatakan bersifat Qidam. Artinya, Tuhan ada lebih dahulu daripada semua makhluk/ciptaan, namun keberadaan-Nya tanpa permulaan atau tidak diawali dengan ketiadaan. Dengan demikian keberadaan Tuhan tidak ada yang menjadikan karena Tuhan bukan kejadian.

Jika manusia ada yang menciptakan, maka tentulah jawaban pertanyaan tersebut pihak yang mencitakan manusia. Ciptaan tidak akan mampu menjelaskan untuk apa dia diciptakan. Oleh karena itu, sudah ribuan tahun pun ahli filsafat tidak mampu menjawabnya. Akal kita tidak memiliki jawabannya, karena akal inipun ciptaan yang tidak bahkan tidak bisa menjelaskan untuk apa dia diciptakan. Akhirnya, yang ada hanya jawaban yang menerka-nerka. Mungkin hidup kita untuk ini, untuk itu, dst. Mungkin kita akan bahagia jika kita begini, jika kita begitu. Manusia akan melakukan trial and error sehingga muncullah tiga golongan mayoritas yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya

Meskipun begitu ada sekelompok kecil manusia yang memiliki jawaban yang sebenarnya. Jumlahnya tidak banyak, tapi selalu berperanan sepanjang sejarah peradaban manusia. Mereka inilah para nabi dan rasul. Mereka mampu menjawab pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh manusia manapun juga. Jawaban mereka inilah sebenar-benar jawaban karena jawaban itu datang dari pihak yang menciptakan manusia, Tuhan Semesta Alam. Jika demikain maka marilah kita merujuk kepada Tuhan yang menciptakan kita. Janganlah kita cari jawabannya kepada pihak yang tidak menciptakan kita. Ibarat trouble pada mobil BMW tidaklah kita akan cari solusinya di bengkel Toyota. Lalu apa kata Tuhan, untuk apa sebenarnya kita diciptakan dan dihidupkan di muka buni ini?

Ternyata jawabannya pun juga sederhana:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku"
(Ad Dzaariyaat 56)

Dengan demikian selesailah sudah segala kerancuan sepanjang sejarah manusia. Ternyata alasan keberadaan manusia adalah untuk mengabdi kepada Tuhan yang menciptakannya. Mengabdi kepada Tuhan atau dengan kata lain beribadah kepada-Nya. Mengabdi adalah kata kerja. Pelakunya disebut abdi. Kata lain abdi adalah hamba. Ya, kita memang hamba. Hamba Tuhan, bukan hamba harta, bukan hamba tahta, bukan hamba dunia. Akal kita menrimanya, fitrah kita menerimanya, hati kitapun menerimanya. Seseorang akan senang hati jika disebut sebagai hamba Allah. Bahkan seorang yang gila harta sekalpun. Justru dia akan tersinggung jika dikatakan sebagai hamba harta. Satu-satunya yang menolaknya adalah nafsu yang masih tidak terdidik. Karena memang demikianlah nafsu dijadikan.

Lalu seperti apakah kehidupan seorang hamba itu? Seorang budak disebut juga hamba sahaya, maka kira-kira seharusnya seperti itulah kita sebagai hamba Tuhan. Seorang budak atau hamba tentu sangat hormat kepada tuannya, begitu juga kita dengan Tuhan. Seorang hamba tentu takut dengan ketidakridhoan tuannya, begitu juga kita dengan Tuhan. Seorang hamba tentu sangat merendah diri di hadapan tuannya, tidaklah seorang hamba akan berkacak pinggang dan bekata kasar dengan tuannya. Begitu juga kita dengan Tuhan. seorang hamba tentu akan sangat melayani tuannya, melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk tuannya. Begitu juga kita dengan Tuhan. Itulah sikap seorang hamba. Begitu juga di sisi Tuhan, hal-hal semacam itulah yang disebut penghambaan atau pengabdian atau ibadah. Jika kita ingin jadikan hidup kita tepat segaimana tujuan diadakannya kita, maka jadikanlah segala aktivitas kita lakukan karena Tuhan, sebagai suatu ibadah. Jika yang kita lakukan bukan suatu ibadah maka artinya kita telah mengalami malfungsi. Maka, wajar jika Tuhan tidak anugerahkan kebahagiaan di dalam hati kita.

Lalu apakah yang disebut ibadah itu? Benarkah perintah-perintah yang disebutkan dalam agama, seperti sholat, puasa, zakat, haji, sedekah, mengaji, itukah ibadah?  Apa saja sebenarnya perkara yang disebut ibadah? Ternyata ada tiga kategori ibadah, yaitu:

1. Ibadah Asas yang menjadi rukun Islam, yaitu sholat, puasa, zakat, dan behaji bagi yang mampu. Ibadah inilah yang hukumnya fardhu ain.
2. Ibadah Tambahan berupa perkara-perkara sunat dan fardhu kifayah seperti sembahyang sunat, puasa sunat, dan urusan-urusan kemasyarakatan/hablumminannas
3. Ibadah Umum, yaitu apa saja hal-hal diperbolehkan/mubah  yang tepat niat dan ilmunya. Atau dengan kata lain, dilakukan dengan menempuh 5 Syarat Ibadah, yaitu:
      
     a) Niat karena Allah semata.
     b) Perkaranya dibenarkan
     c) Pelaksanaannya tidak melanggar syariat.
     d) Hasilnya digunakan dengan benar.
     e) Tidak meninggalkan ibadah yang asas (rukun Islam).   

Dengan demikian maka segala aktivitas kita dapat bernilai ibadah. Keleluasaan ekonomi yang dianugerahkan kepada kita bernilai ibadah. Kekuasaan di tangan kita bernilai ibadah. Begitu juga ilmu, keahlian, prestasi dan jabatan yang dititpkan-Nya kepada kita menjadi bernilai ibadah. Karena dalam puncak penghambaanya kepada Tuhan,
manusia memang memiliki satu fungsi khusus yaitu sebagai
pemimpin atau wakil (khalifah) Tuhan di muka Bumi untuk mengatur dan memakmurkannya.

"Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang khalifah di muka Bumi." [Al Baqarah: 30]

Dengan menempuh syarat-syarat tersebut, maka perkara dunia tidak lagi bernilai dunia melainkan sudah bernilai ibadah. Tentunya ibadah-ibadah asas jangan sampai justru menjadi perkara dunia karena rusaknya niat atau karena tidak tepat pelaksanaannya.

Akhirnya kehidupan ini serba bernilai ibadah, semua serba ibadah. Sesuailah manusia dengan tujuan diciptakannya. Maka, kehidupan di muka Bumi ini  akan harmonis dan berkasih sayang. Dunia ibarat syurga sebelum Syurga. Inilah kunci kebahagiaan. Sungguh, alangkah indahnya kehidupan ini jika manusia dapat dengan tepat menjawab satu pertanyaan sederhana: "Mengapa manusia hidup?"


-FIN-

[Rewriting of Harmony Motivation Center's concepts]

 

Leave a Reply