Archive for December, 2005

The Founding Father

Friday, December 16th, 2005

Reveal the History, The Series:

IMAM SYAFI’I RAHIMAULLAHUTAALA
(Mujaddid kurun ke-2)

“Dalam Sunnah disebutkan bahwa ALLAH akan mempersiapkan pada setiap awal seratus tahun seseorang yang akan mengajarkan Sunnah kepada manusia, kemudian orang itu akan menghapuskan segala kebohongan yang dibuat-buat atas Nabi Muhammad SAW, kemudian kami menyaksikan kebenaran hadits ini, di mana pada awal seratus tahun pertama dia adalah Umar bin Abdul Aziz, sedangkan pada seratus tahun kedua adalah Asy Syafi’i.”
(Imam Ahmad bin Hambal, riwayat Al Baihaqi)

la adalah mujaddid yang kedua, dilahirkan di Ghazzah (Syria) pada tahun 150 Hijriah. Wafat 204 Hijriah. Di zaman ini susunan perundangan Islam (ilmu fiqih) sedang mendapat tempat dan sedang menuju hampir ke zaman kematangannya, walaupun kitab -kitab mengenainya belum begitu banyak. Terdapat dua aliran fahaman tentang ilmu fiqih:

  1. Aliran fiqih: yang kuat bersandar pada ar-rakyu (fikiran). Berpusat di Iraq, dipelopori oleh lmam Abu Hanafiah yang lahir pada (80H/660M). Ajaran beliau disambungkan oleh sahabat-sahabat pengikutnya. Aliran ini banyak bersandar pada ar-rakyu sebab Iraq letaknya jauh dari tempat lahir Rasulullah S.A.W jadi kurang atau jauh dari ahli hadits. Tambahan lmam Hanafi kurang mengembara (tinggal di Baghdad dan wafat pun di Baghdad). Jadi bila tidak ada hadits mereka sangat bersandar pada ar-rakyu (fikiran). Aliran ini didasarkan pada apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam sabdanya ketika menghantar Sayidina Mu’az menjadi guru di Yaman. Artinya:
        
         Dari beberapa orang daripada kawan Mu’az dari Rasulullah s.a.w. dikala beliau mengutus Mu’az ke negeri Yaman, maka beliau bersabda: "Bagaimana engkau menghukum?" la berkata: "Aku akan menghukumi dengan apa yang di dalam Kitab Allah". Beliau bersabda: "Maka jika tidak ada di dalam Kitab Allah?" la berkata: "Maka dengan sunnah Rasulullah s.a.w." Beliau bersabda pula: " Maka jika tidak ada di dalam sunnah Rasulullah s.a. w. " la berkata: "Aku akan berijtihad dengan fikiranku". Rasulullah s.a.w. bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada pesuruh Rasulullah " (Riwayat At-Tarmizi)
        
         Sebab lain kenapa mereka sangat bersandar pada ar rakyu ialah karena terlalu berhati-hati menerima hadits. Walaupun ada hadis yang sampai tapi karena membimbangkan kesahihannya takut berbohong dengan Rasulullah maka ditolaknya dan digunakan ar-rakyu.
  2. Aliran ahlul hadis: Berpusat di Madinah. Pelopornya ialah lmam Malik bin Anas. Berlakunya ini oleh karena di Madinah banyak orang yang menghafal hadis Rasulullah S.A.W. Jadi lmam Malik aliran fiqihnya sangat terpengaruh dengan hadis, kurang menggunakan ar-rakyu (fikiran), bahkan terlalu takut hendak menggunakan ar-rakyu walaupun ketika tidak ada hadits yang sampai padanya. Alasan golongan ini ialah takut membuat-buat hukum. Jadi mereka terima saja hadits, sekalipun beturn jelas kesahihannya. Tambahan pula lmam Malik kurang mau mengembara. Jadi kuranglah pengalamannya.

lmam Syafi’i R.T lahir dan dewasa hinggalah wafat di antara dua aliran fiqih inilah. Allah takdirkan dia lahir sebagai yatim, miskin pula. lbunya seorang yang sholehah. Maka dia banyak berpindah-pindah antara satu negeri dengan satu negeri. Pernah duduk di Mekah dan belajar dengan ulama di sana, di antara gurunya yang terkenal di Mekah ialah Muslim Khalid Az-Zinji. Pernah lama tinggal di Madinah dan belajar ilmu fiqih dengan lmam Malik bahkan kitab Hadits Muwatta’ susunan lmam Malik dapat dihafal oleh lmam Syafi’i waktu muda.

Pernah mengembara ke Iraq (Baghdad) dapat pula bertukar fikiran dan muzakarah tentang ilmu dengan ulama di sana, terutama ulama yang jadi pengikut lmam Hanafi, ahlul rakyi. Pernah berhijrah ke Mesir dapat pula bergaul serta bermuzakarah ilmu pengetahuan dengan ulama-ulama di Mesir bahkan Mesir merupakan tempat tinggalnya yang akhir dan maqamnya ada di Kairo. Selain daripada banyak berhijrah serta bergaul dengan macam macam golongan ulama di waktu kecilnya hinggalah waktu mudanya pernah pula tinggal dengan puak Arab, Kabilah Huzil selama 16 tahun. Kabilah ini ialah satu golongan Arab yang terkenal fasih dan mahir di bidang sastra. Sastra Arab mereka itu jadi sebutan dan tiruan karena baiknya. Imam Syafi’i dapat mengkaji secara mendalam sastra mereka dan dapat menghafal syair mereka, hingga jadi pakar sastera dan syair.

Perlu diingat lmam Syafi’i juga telah hafal Quran waktu umur 9 tahun dan banyak juga hafal hadis. Gurunya lebih kurang 1000 orang. Dengan kebolehan-kebolehan menghafal Quran, hafal hadits, faham pula kedua-dua bentuk aliran fiqih yang ujud di waktu itu, banyak ilmunya, luas pengalamannya karena banyak mengembara, mahir di bidang bahasa dan sastera. Ditambah dengan sikap hidup yang zuhud, maka lmam Syafi’i bangun sebagai penyelamat umat di zaman-nya.

Segala kebolehan dan ilmunya diproses menjadi satu bentuk ilmu fiqih yang berada di tengah-tengah antara dua aliran tadi. Artinya lmam Syafi’i menghasilkan aliran fiqih yang ketiga. Aliran (mazhab) yang menjadi jalan tengah antara kedua aliran yang sebelumnya. Yakni menggunakan ar-rakyu tapi tidak keterlaluan (hingga mudah mudah menolak hadits) di samping tidak terlalu berani menerima hadis selagi tidak diperiksa dengan teliti.

Dengan kata yang lain, lmam Syafi’i menerima hadis dengan teliti dan mampu berijtihad dengan  ar-rakyu setelah tidak ada Quran dan Hadits, Itulah mazhab (alirannya). Mazhab tidak terlalu ke kanan tidak terlalu ke kiri; tidak sebebas-bebas menggunakan akal dan tidak sebebas-bebasnya menggunakan hadits. Dalam aliran (mazhab) yang dipeloporinya ini lmam Syafi’i memperkenalkan dua kaedah yang tidak ada sebelumnya. yaitu kaedah Usul Fiqih dan Qawa’idul Fiqih. Kedua dua kaedah ini dituliskan dalam kitab-kitabnya, di antaranya yang terkenal ialah Ar-Risalah. Tujuan kaedah ini ialah untuk menunjukkan cara untuk istinbat atau mengeluarkan hukum serta cara untuk menetapkan hukum ke atas isu-isu yang belum terjadi sebelumnya.

Kaedah beliau ini telah diterima dan dipakai oleh mujtahid-mujtahid yang datang kemudian. Dengan kaedah-kaedah ini terselamatlah para mujtahid dari tersalah, sebab kaedah itu memberi timbangan atau garis panduan dalam menentukan atau mengeluarkan hukum. ltulah jasa besar lmam Syafi’i, kedatangannya untuk zamannya adalah benar sebagai penyelamat dan penghidup agama (mujaddid). Selain daripada mematangkan dan mengemaskan lagi perundangan Islam, ia membawa kesederhanaan antara aliran ahlul hadis dan ahlul rakyi.

[Taken from "Siapa Mujaddid Kurun ke-15", by Syeikh Imam Ashaari Ibn Muhammad At Tamimi]

Utopia Tombo Ati

Monday, December 5th, 2005

"Tombo ati iku ana lima perkarane
  Kaping pisan moco Quran sak maknane ….."

Sebuah senandung yang sudah akrab di telinga kita. Sebuah senandung klasik yang saat ini dipopulerkan oleh Opick. Sebelumnya, dibawakan oleh Emha Ainun Nadjib dengan iringan gamelan Kyai Kanjeng. Tidak banyak yang menetahui bahwa syair ini digubah oleh Sunan Bonang (1465-1525). Salah satu Wali Songo yang banyak berdakwah melaui kebudayaan. Seorang guru yang telah menginsyafkan dan mendidik seorang ‘perampok budiman’ bergelar Brandal Lokajaya yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Kalijaga, anggota Wali Songo yang paling banyak disebut-sebut dalam sejarah kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa.

"Tombo Ati" atau "Obat Hati", sebuah syair sederhana tetapi sungguh berat maknanya. Bahkan hampir menjadi sebuah utopia untuk bisa mewujudkannya dalam kehidupan kita di jaman ini. Bahkan disebutkan di penghujung syair, "Salah sawijine sopo bisa ngelakoni, InsyaAllah Gusti Pangeran ngijabahi.." Cukup amalkan salah satunya, InsyaAllah Tuhan akan mengijabah. Mengapa utopia? Mari kita perhatikan apa sajakah lima perkara yang menjadi obat hati itu.

1. Moco Quran sak maknane (membaca Al Quran dengan maknanya)

Membaca Quran tentu tidakcukupdengan melafadzkannya. Jika sekedar melafadzkannya saja, maka kita tidak akan dapat maknanya. Salah-salah Al Quran justru mengutuki kita ketika kita membaca ayat yang menceritakan tentang penghuni neraka sebagai ancaman tapi kita tidak merasa ancman itu untuk kita, merasa diri aman. Padahal kita tidak pernah tahu bagaiamana kesudahan hidup kita nanti.

Ilmu Al Quran ini sebenarnya khazanah ilmu. Ilmunya berlapis lapis. Dari ilmu tentang Al Quran itu sendiri, kemudian ilmu tentang pembagian ayat-ayat dan sejarah diturunkannya, lalu tentang perintah dan larangan Allah, ilmu-ilmu mengenai sejarah umat yang lalu, khabar masa depan, sampai ke perkara yang ghaib seperti malaikat,jin,surga neraka,dan tentu saja tentang Allah itu sendiri. Dari ilmu-ilmu seperti fisika, biologi, sejarah, geografi, politik, ekonomi sampai ke formulasi-formulasi khusus untuk menyelesaikan permasalahan umat di suatu jaman.

Belum lagi ilmu-ilmu implisit seperti hukum-hukum yang hanya bisa tergali oleh seorang mujtahid. Seorang mujtahid adalah seseorang yang memenuhi kriteria untuk dapat dengan sah menarik hukum langsung dari Al Quran dan Hadits. Imam Suyuti menyaratkan 15 kriteria, di antaranya adalah menguasai 80 cabang ilmu Al Quran seperi Nasikh-Mansukh (dalil penghapus-dalil terhapus), ‘Aam Khas(umum-khusus) dsb, 100 cabang ilmu Sunnah, Ushul Fiqh (metodologi perumusan hukum), bahasa Arab, Nahu dan Sharaf (tata bahasa), Ma’ni (makna huruf), serta Ijma dan Khilaf (kesepakatan dan perbedaan rumusan hukum yang telah ada). Begitu sulitnya memenuhi kriteria ini sehingga sepanjang sejarah Islam hanya ada 11 mujtahid mutlak yang kemudian diakui sebagai imam mahzab.

Begitu juga juga ilmu-ilmu implisit yang jika diekplisitkan menjadi seperti ilmu yang dimiliki oleh seorang wali Allah bernama Asif Barkhaya di jaman Nabi Sulaiman. Dengan izin ALlah, beliau mampu mengungguli kemampuan bangsa jin dalam memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Yaman ke tempat Nabi Sulaiman di Palestina yang jaraknya hampir 5000 km.

"Berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu sebelum matamu berkedip" [An Naml: 27]

Ternyata membaca makna Al Quran bukan perkara yang mudah. Tidak sembarang orang mampu menggali mutiara-mutiara Al Quran yang berharga. Mutiara adalah sesuatu yang tersembunyi yang tidak mudah diperoleh. Oleh karena itu, jika kita ingin mencari solusi paling tepat bagi permasalahan umat di suatu jaman, setidaknya kita harus mencari ulama bertaraf mujaddid di jaman itu yang benar-benar bisa dengan tepat moco Quran sak maknane.

2. Sholat wengi lakonono (sholat malam dirikanlah)

Sholat adalah suatu ibadah yang sangat berat. Berat untuk melaksanakannya, berat ketika melaksanakannya, berat dalam memenuhi tuntutannya. Ketika kita sedang sibuk dengan dunia, mudahkah kita meninggalkannya untuk mendirikan sholat di atas waktunya? Begitu juga dengan sholat malam yang sunnat saja hukumnya. Tentu bukan perkara yang mudah untuk menjalankannya,apalagi untuk bisa konsisten/ istiqamah.

Sholat juga berat dalam pelaksanaanya. Berakhlak dengan Allah ketika menghadap-Nya? Sedangkan menghadap raja saja sesorang akan begitu bersungguh-sungguh, berakhlak, penuh hormat, disertai rasa harap dan cemas. Menghadap Raja Segala raja, tentunya lebih-lebih lagi. Ketika bertakbir, terasakah Tuhan adalah segala-galanya? Ketika tubuh kita ruku, apakah hati kita ikut ruku? Ketika tubuh kita sujud, apakah hati kita ikut sujud? Merendahkan diri serendah-rendahnya, menghina diri di hadapan-Nya, merasa diri lemah dan kerdil selayaknya seorang hamba, membuang semua mazmumah (sifat jahat) dan kesombongan?

Karena itulah dari sholat yang dihayati dan tepat lahir batinnya akan muncul sebuah pribadi agung. Pribadi yang subur dengan mahmudah (sifat terpuji), ikhlas, tawadhu’, merendah diri, berakhlak dan berkasih sayang sesama manusia. Itulah beratnya tuntutan sholat. Karena itulah dikatakan sholat yang benar mampu mencegah manusia dari berbuat kejahatan.

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain).
[Al Ankabut: 45]

Jika sholat kita belum mengubah perangai kita, belum mencegah kita dari melakukan kejahatan, korupsi, penipuan, menyakiti sesama, tentu sholat-sholat kita belum menjadi tombo ati.

3. Wong kang sholeh kumpulono (berkumpullah dengan orang sholeh)

Siapakah yang dikatakan orang sholeh? Predikat sholeh ternyata tidak bisa dinilai dari lahiriyah semata. Terlihat lebih taat bukan ukuran untuk menilai kesholehan seseorang. Untuk dapat memahami predikat sholeh ini kita perlu mengetahui peringkat-peringkat iman dan peringkat-peringkat nafsu.

Di dalam Islam dikenal ada lima peringkat iman,yaitu:

a.Iman Taqlid. yaitu sekedar mengakui keberadaan Tuhan tetapi tidak memiliki dasar ilmu atau argumentasi. Mungkin ikut kata orang tua, mereka katakan ada Tuhan, ya Tuhan adalah kalau begitu. Jika ditanyakan apa buktinya Tuhan itu ada, tidak bisa menjawab.

b. Iman Ilmu. Di peringkat ini iman seseorang baru dapat dikatakan sah. Iman yang dimiliki sudah berdasrkan pada ilmu. Salah satu kaedah/ metode untuk mengesahkan iman adalah dengan Kaedah Sifat 20. Sebuah formulasi untuk membantu kita mengenal Allah yang disusun oleh Abu Hassan Al Asy’ari, mujaddid di abad ke-4 Hijriyah. Dengan demikian orang yang mengerti tentang 20 sifat wajib bagi Allah (beserta 20 sifat mustahil dan 1 sifat mubah) dapat dikatakan tahu tentang Allah.

c. Iman Ayan. Sekedar tahu tentang Allah saja belum mampu menjaga seseorang dari bebuat dosa dan kejahatan karena ilmu itu masih berada di akal. Belum jatuh ke hati. Tahu Tuhan berbeda dengan kenal Tuhan. Seseorang yang kenal Tuhan sudah hidupdalam hatinya rasa cinta dan takut Tuhan. Senantiasa merasa dalam penglihatan, pendengaran dan pengetahuan-Nya. Terasa peranan dan kerja-kerja Tuhan. Jiwanya hidup denga rasa ber-Tuhan dan rasa kehambaan. Iman di akal telah dihayati oleh hati.  Di peringkat inilah, seseorang akan terpelihara dari berbuat dosa dan kesalahan.

Sesungguhnya orang beriman melihat dosa seperti ia berada di lereng gunung dan takut kalau-kalau gunung itu menimpanya. [H.R Bukhari]

d. Iman Haq. Inilah peringkat iman para Auliya (wali Allah). Perkara dunia ini tidak lagi menipu mereka dan tidak menghalangi ‘penglihatan’ mereka kepada Tuhan. Mereka selalu merasakan peranan dan kerja Tuhan dalam setiap perkara. Dunia ibarat najis bagi mereka, walaupun dunia berada tangan mereka. Bahkan mereka menghidari perkara yang mubah karena hanya akan memperlama perhitungan/ hisab di akhirat. Para sahabat Rasulullah umumnya berada di peringkat ini.

e. Iman Hakikat. Peringkat iman tertinggi, peringat para Nabi, Rasul dan wali-wali besar termasuk diantaranya Khulafaur Rasyidin. Mereka senantiasa tenggelam dalam kerinduan dan cinta kepada Allah setiap saat. Mereka inilah golongan super-scale di akhirat, yang dijanjikan Syurga tanpa hisab.

Sedangkan tujuh peringkat nafsu:

a. Nafsu Ammarah. Keadaan nafsu seseorang yang senantiasa mengajak berbuat kejahatan. Bahkan bangga dengan kejahatan itu. Misalkan setelah memukul orang, diceritakannya pula dengan bangga kepada orang lain. Jika berhasil menipu orang, terasa hebat dan bangga dengan perbuatan itu. Jika mendapat perlakuan jahat, maka hal itu akan menjadi pembenaran untuk menyakiti orang lain atau diri sendiri. 

"Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan" [Yusuf: 25]

b. Nafsu Lawammah. Nafsu yang ketika berbuat dosa atau kejahatan maka akan terasa berdosa dan sedih. Meskipun begitu masih akan dilakukannya lagi perbuatan itu karena lemah bermujahadah (berjuang) melawan nafsu.

c. Nafsu Mulhamah. Di peringkat ini nafsu seseorang sudah tunduk kepada apa yang dikehendaki Tuhan. Hanya saja jika keadaan lingkungan berubah, masih bisa terpengaruh. Jika terbuat dosa, akan hilang kebahagiaan. Ia akan sangat menyesal dan segera bertaubat.

d. Nafsu Mutmainnah. Nafsu mutmainnah adalah nafsu yang tenang. Tidak lagi terpengaruh oleh kesenangan atau kesedihan, pujian maupun hinaan. Inilah nafsu wali-wali kecil.

"Hai jiwa yang tenang (mutmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya" [Al Fajr 27-28]

e. Nafsu Radhiah. Nafsu yang telah ridho dengan segala ketentuan Tuhan.

f. Nafsu Mardhiah. Nafsu yang Tuhan pun redho dengannya. Jika ia menghendaki sesuatu maka Allah akan mewujudkannya.

g. Nafsu Kamillah.
Peringkat nafsu para Rasul dan Nabi. Nafsu mereka senantiasa terpimpin oleh wahyu.

Dengan mengacu pada peringkat-peringkat iman dan nafsu di atas, sebenarnya yang dimaksud dengan predikat sholeh adalah mereka yang setidaknya memiliki peringkat iman Ayan dan nafsu Mulhammah. Lebih tinggi dari peringkat itu tentu lebih dari sekedar sholeh, mereka adalah orang-orang bertaqwa yaitu para Muqarabin (orang dekat/karib dengan Allah) dan para Shadiqqin (orang yang sangat membenarkan). Lalu pertanyaan selanjutnya, saat ini di manakah kita bisa jumpai orang-orang seperti ini?

4. Weteng iro ingkang luwe (perut yang berlapar-lapar/perbanyaklah berpuasa)

Berpuasa tentu bukan sekedar berlapar-lapar. Puasa yang berkesan kepada akhlak, tentu tidak hanya lahiriahnya saja yang berpuasa. Tetapi juga penglihatan, pendengaran, perilakunya ikut terkawal. Disertai ruh ibadah berupa rasa ber-Tuhan dan rasa kehambaan yang tajam. Ibadah tanpa ruh akan menjadi ibadah ‘bangkai’. Bangkai, kita pun tidak mau menyentuhnya. Ibadah ‘bangkai’, akankah Tuhan menerimanya? Karena itulah Rasulullah mengingatkan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.

5. Dzikir wengi ingkang suwe (dzikir malam perpanjanglah)

Dzikir sulit istiqamah kalau tidak dalam disiplin tertentu. Dzikir yang didisiplinkan ini disebut wirid. Wirid ini bermanfaat dalam tumbuhnya kekuatan ruhani. Oleh karena itu, dalam sebuah perjuangan biasanya ada wirid-wirid yang diamalkan. Rangkaian wirid sebaiknya terhubung Rasulullah. Artinya, wirid tersebut disusun oleh Rasulullah dan diberakan kepada seseorang untuk kemudian diberikan kepada orang lain lagi dengan silsilah yang jelas. Wirid yang terhubung dengan Rasulullah inilah yang menjadi asas sebuah tarekat. Ahli tarekat pula yang lazim mengamalkan dzikir wingi ingkang suwe.

Tapi di tengah zaman yang super sibuk ini tidak sempat lagi jika kita berwirid seperti misalnya wirid jaman Iman Ghazali. Tuntutan jaman ini sudah berbeda dengan jaman-jaman sebelumnya. Kita dituntut berjuang di tengah-tengah masyarakat global untuk memperbaiki semua aspek dalam masyarakat. Oleh karena itu, sebagaimana lazimnya muncul sebuah wirid dan tarekat di suatu jaman sebagai motor ruhani bagi perjuangan di jaman tersebut, maka sudah seharusnya ada satu rangkaian wirid yang sesuai dengan tuntutan dunia hi-tech yang super sibuk ini. Sebagai sebuah dzikir yang akan mengobati hati dan menjadi kekuatan ruhani bagi perjuangan Islam di akhir jaman.
                                                       

Jika kita pahami, ternyata mengobati penyakit hati masyarakat akhir zaman adalah sesuatu hal yang sangat sulit karena setiap permasalahan berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, baik buruknya akhlak seseorang ditentukan oleh hatinya. Hati adalah raja dalam diri. Sedangkan hati ini ditempa oleh makanan. Makanan yang haram akan mengotori hati. Hati yang kotor sulit menerima kebenaran. Artinya, jika kita ingin memperbaiki akhlak kita tentulah kita harus menjaga apa yang kita makan. Begitu juga jika kita ingin memperbaiki masyarakat. Di jaman ini adakah jaminan bahwa makanan yang kita makan kita bebas dari unsur-unsur yang haram? Baik secara zatnya maupun secara maknawi. Misalnya, adakah yang bisa memastikan bahwa uang yang kita pergunakan untuk memperolehnya bebas dari unsur riba? Tentu sulit untuk memastikannya.

Bahkan tanpa kita sadari uang kertas yang kita miliki pun adalah sebuah simbol riba yang sitematis. Karena nilai nominalnya yang berbeda dengan nilai intrinsik (nilai bahan) maka daya tukarnya sangat bergantung kepada pihak yang menerbitkannya. Dalam hal ini adalah pemerintah. Jika terjadi inflasi maupun deflasi maka terjadi perubahan daya tukar uang terhadap barang. Ada selisih antara usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu nilai nominal uang sebelum inflasi/deflasi dengan hasil tukar uang tersebut setelahnya. Riba? Wajarlah jika masyarakat kita sulit keluar dari kerusakan akhak dan moral.

Oleh karena itu, untuk bisa mengobati hati masyarakat perlu adanya sebuah solusi yang menyeluruh di semua bidang kehidupan. Dari sistem ekonomi, pendidikan, kebudayaan, politik, dst. Yang mampu menghadirkan satu sistem yang benar di antara sistem yang telah rusak dan menjadi sumber permasalahan. Mungkin hanya orang-orang khusus yang dipilih Allah saja yang mampu menghadirkan formulasi yang tepat untuk penyelesaikan seluruh permasalahan di jaman ini. Jika tidak maka maka "Tombo Ati" memang hanya tinggal syair legendaris berusia setengah millenium.

[Inspired by M.S. Adhy]

Tuhan di Bawah Telapak Kaki

Thursday, December 1st, 2005

Sebuah kisah tentang Syeikh Abdul Qadir AL Jailani. Suatu ketika beliau didatangi oleh pemuka-pemuka kota Baghdad yang mengundangnya ke sebuah majelis ibadah malam bersama-sama. Beliau menolak tetapi pemuka-pemuka tersebut berkeras juga mengajak beliau hadir. Untuk mendapatkan keberkahan, kata mereka. Akhirnya, dengan berat hati, Syeikh Abdul Qadir setuju untuk hadir.

Pada malam dimaksudkan, di satu tempat yang terbuka, beratus-ratus orang hadir dengan melakukan ibadah masing¬masing. Ada yang sholat. Ada yang berwirid. Ada yang membaca Quran. Ada yang berdiskusi. Ada yang bertafakur dan sebagainya. Syeikh Abdul Qadir duduk di suatu sudut dan hanya memerhatikan gelagat orang-orang yang beribadah itu.

Di pertengahan malam, pihak penyelenggara mempersilakan Syeikh Abdul Qadir untuk menympaikan nasehat. Beliau coba mengelak tetapi didesak berkali-kali oleh pihak penyelenggara. Untuk mendapatkan keberkahan, kata mereka lagi. Akhirnya dengan hati yang sungguh berat, Syeikh Abdul Qadir menyanggupi.

Nasehat Syeikh Abdul Qadir ternyata ringkas dan pendek saja. Beliau berkata, "Tuan-tuan dan para hadirin sekalian. Tuhan Tuan¬tuan semua berada dibawah telapak kaki saya."

Dengan itu, majelis menjadi gempar dan riuh¬rendah. Para hadirin terasa terhina dan tidak puas hati. Bagaimana mungkin seorang Syeikh yang begitu dihormati dan terkenal dengan ilmu dan sifat wara’ bisa berkata begitu terhadap Tuhan mereka. Ini sudah menghina Tuhan. Mereka tidak sanggup Tuhan mereka dihina sampai begitu rupa. Mereka sepakat untuk melaporkan perkara itu kepada pemerintah.

Ketika pejabat pemerintahan yang berwenang  mendapat laporan, diperintahkannya seorang hakim untuk mengadili Syeikh Abdul Qadir dan jika dia terbukti bersalah, maka akan dihukum pancung.

Pada hari pengadilan yang diadakan di tengah masyarakat umum, Syeikh Abdul Qadir dihadirkan untuk menjawab tuduhan. Hakim bertanya, "Benarkah pada di tempat tersebut, pada tanggal sekian, Tuan Syeikh berkata di depan umum bahawa tuhan mereka ada di bawah telapak kaki Tuan Syeikh?"

Dengan tenang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Benar, saya memang berkata begitu."

Hakin kemudian bertanya lagi, "Apakah sebab Tuan Syeikh berkata begitu?" Jawab Syeikh Abdul Qadir, "Kalau Tuan Hakim mahu tahu, silakan lihat telapak kaki saya."

Maka hakim pun memerintahkan pegawainya mengangkat kaki Syeikh Abdul Qadir untuk dilihat telapak kakinya. Ternyata ada uang satu dinar yang melekat di telapak kakinya.

Tuan Hakim mengetahui Syeikh Abdul Qadir seorang yang kasyaf (bisa melihat hati seseorang). Fahamlah dia bahawa Syeikh Abdul Qadir bermaksud mengajar bahwa semua orang yang beribadah pada malam itu sebenarnya tidak beribadah kerana Tuhan. Tuhan tidak ada dalam ibadah mereka. Hakikatnya, mereka tetap bertuhankan dunia yang disimbolkan dengan uang satu dinar itu.

Jika di jaman beliau manusia beribadah sudah bukan karena Tuhan, melainkan karena cinta dunia atau karena fadhilat, apalagi di jaman ini. Manusia berbadah tidak lagi karena mengharapkan keredhoannya, tetapi karena menginginkan harta, mengharapkan jabatan, karena ingin murah rezeki, karena ingin pujian, jaga image, strategi bisnis, dsb. Sedangkan beribadah karena menginginkan syurga dan takut neraka saja sudah dikatakan mencacatkan keikhlasan apalagi beribadah karena cinta dunia.

Jika dalam ibadah yang asas saja saja manusia sudah kehilangan Tuhan apalagi dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin Tuhan hanya tinggal mitos semata. Keberadaan Tuhan mungkin masih dipercayai. Tapi sifat-sifat-Nya sudah tidak dikenali, perananan-Nya juga tidak dirasakan lagi. Tidak terasa bahwa Dia Maha Melihat, Maha mendengar, Maha Pemurah dan Penyayang, Maha Pemberi Rizki, Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, Maha segala-galanya.

Walaupun manusia mengatakan Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta tapi di saat yang bersamaan manusia bersikap seolah-oalah Tuhan tidak tahu bagaimana mengatur ciptaan-Nya. Tuhan mungkin masih ada di tempat-tempat ibadah tapi Tuhan ditinggalkan ketika membangun, ketika berekonomi, ketika berteknologi, ketika bernegara. Tuhan tidak dibawa ketika berpikir, berfalsafah, bermoral, beretika, dan bermasyarakat.

Akibatnya manusia hilang tempat mengadu. Hilang tempat merujuk. Hilang tempat berserah diri dan bergantung. Hilang tempat meminta pertolongan. Hilang persatuan dan kasih sayang. Manusia berkrisis dan berperang. Kejahatan berleluasa. Timbul kezaliman dan penindasan sehingga manusia cemas dan ketakutan. Ini akibat manusia meninggalkan Tuhan. Semoga nasehat seorang Sang Syeikh sembilan abad lampau bermanfaat untuk kita.   

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani (1077-1166). Lahir di kota Jailan dan kemudian tinggal di Baghdad. Seorang ulama besar bermahzab Imam Syafi’i. Beliau adalah pengasas tarekat Qadiriyah yang berkembang menjadi salah satu tarekat terbesar di dunia termasuk di Indonesia. Sebuah tarekat dipimpin oleh seorang mursyid (guru yang bisa memimpin hati) yang terbuka mata batinnya sehingga dapat melihat ruhani seseorang (khasyaf) yang seseorang itu sendiri tidak dapat melihatnya. Oleh karena itu, seorang muryid bisa menasehati dan memberikan latihan untuk membersihkan hati dan mendidik nafsu para muridnya. Guru mursyid ini sangat sedikit jumlahnya. Imam Ghazali mengibaratkan mencari guru mursyid seperti mencari belerang merah. Beliau sendiri memiliki 1000 orang guru dengan satu guru yang mursyid.

[Story taken from "Siraman Minda-Seri Motivasi 10" by Major (B) Abu Dzarin Taharem ]