The Great Defender

Reveal the History, The Series:

ABU HASSAN AL ASY’ARI

(Mujaddid kurun ke-3)   

"Pada seratus pertama, di adalah Umar
Khalifah adil disepakati tidak akan pudar

     Sedang Syafi’i datang pada dua ratus kedua
     Karena memiliki ilmu tiada dua

Lalu Ibnu Suraij adalah Imam ketiga
Sedang Al Asy’ari diakui oleh para pengikutnya"
(Imam Sayuti - Tuhfah Al Muhtadin bi Asma’ Al Mujaddidin)

 
Abu Hassan Al Asy’ari dilahirkan pada 260H/874M dan wafat 324H/937M. Beliau dibesarkan di suatu jaman ketika dunia Islam telah terbuka sehingga banyak negara di luar Jazirah Arab telah menganut Islam, seperti Afrika, sebagian Cina, Romawi Timur, Persia, India dan lain-lainnya. Timbullah pergaulan yang luas di antara bangsa Arab dengan bangsa Ajam (non-Arab) yang telah sama-sama menganut Islam. Setiap bangsa dan kaum itu memiliki kebudayaan, istiadat dan pegangan yang tersendiri. Bersama-sama dengan luasnya kawasan pengaruh Islam serta ramai penganut-penganutnya, maka berkembang pesatlah ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Termasuk juga filsafat Yunani mulai mengalir ke dunia Islam. Buku-buku filsafat mereka diterjemahkan ke bahasa Arab, kemudian dikaji, diselidiki dan diproses kembali dan disusun semula oleh para ulama Islam. Hingga menjadi hak kepunyaan (milik) Islam. Artinya di jaman beliau ilmu filsafat sudah begitu berkembang dan mendapat tempat di tengah masyarakat Islam. Akhirnya sedikit banyak filsafat Yunani juga memberi kesan pada pemikiran ulama Islam waktu itu.

Hal ini terutama terjadi di kalangan aliran Mu’tazilah atau golongan lkhwanussofa (gerakan bawah tanah - ahli filsafat). Maka timbullah pemikiran yang keluar dari batas Al Quran dan As Sunnah. Di antara penyelewengan itu adalah:

1. Mengatakan alam ini qadim sama dengan qadimnya Allah
2. Allah mengetahui tentang makhluk adalah secara ijmali (rangkuman) bukan secara tafsili (detail)
3. Allah mengetahui setelah wujud sesuatu, sebelum wujud Allah tidak tahu
4. Makhluk ada kuasa yang memberi bekas (pemahaman Qadariah)
4. Makhluk tidak ada usaha dan ikhtiar (pemahaman Jabariah)
5. Nikmat Syurga itu nikmat ruhani sahaja bukan nikmat ruhani dan jasmani
6. Allah tidak bersifat, Dia hanya zat semata-mata
7. Baik dan buruk bisa ditentukan oleh akal bukan wahyu sebab itu manusia tetap diazab walaupun di jaman itu tiada Rasul (jaman Ahlul Fitrah)
8. Orang yang membuat dosa besar tidak bisa dikatakan mukmin, tidak bisa juga dikatakan kafir. Maka di akhirat kelak mereka tidak ke syurga dan tidak ke neraka. Tempatnya ialah di antara keduanya. .Tempat itu terkenal di kalangan mereka sebagai "Manzilan bainal man zilatain" artinya tempat di antara dua tempat.

Seterusnya mereka menganggap Allah itu bertangan, bermuka dan bermata tanpa ta’wil, hanya mengikut lahir ayat Al quran. lnilah pemahaman Mujassamah atau Musyabihah dan pemahaman lain yang bisa merusakkan aqidah.

Pada awalnya Abu Hassan Asy’ari terpengaruh dengan pemahaman Mu’tazilah. Bahkan sebagian gurunya adalah ulama-ulama Muktazilah. Setelah cukup berilmu, maka beliau membuat kajian lagi. Tapi tiba-tiba dengan takdir Allah S.W.T (barangkali karena Allah mau selamatkan umat Islam dan agama-Nya), Abu Hassan Asy’ari mendapat hidayah dan taufik, maka beliau tersadar. Ajaran Muktazilah yang terlalu menggunakan akal adalah salah dan menyeleweng dari ajaran Al Quran dan As Sunnah. Sejak itu dia pun kembali berpegang dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Beliau pun mulalah menyerang Muktazilah (atau filsafat) dan mempertahankan pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Untuk menyelamatkan aqidah umat beliau pun menyusun satu sistem ajaran usuluddin (pokok-pokok agama atau tauhid) yang berdasarkan kaidah/metode Mantiq (logika- filsafat)

Terkenal dengan ilmu Sifat 20*, setiap sifat Tuhan selain didasarkan kepada dalil naqli (sumber Quran dan Hadis) juga dikuatkan dengan dalil aqli (logika). kaidah Usuludin yang dicipta oleh Abu Hassan inilah kemudian diterima oleh ulama-ulama Ahli Sunnah hingga hari ini. Terutama di kalangan penganut mazhab Imam Syafi’i, sehingga kaidah ini dijadikan mata pelajaran di sekolah-sekolah. Kecuali akhir-akhir ini ada pihak yang menolaknya dan mengatakan cara ini bid’ah. Namun para ahli Sunnah Wal Jamaah tetap menerima kaidah usuluddin oleh Abu Hassan Asy’ari. Yakni mempelajari sifat-sifat Tuhan yang wajib dan yang mustahil dan yang mubah dengan hujjah menggunakan dalil-dalil aqli dan naqli, tidak gunakan dalil akal saja dan tidak gunakan dalil naqli saja.

Hingga terkenallah ke seluruh dunia Islam bahwa pegangan tauhid ahli-ahli Sunnah Wal Jamaah adalah berdasarkan pada Mazhab Abu Hassan Asy’ari. Begitulah besarnya jasa lmam ini. Dia memulihkan aqidah umat yang hampir-hampir rusak oleh pengaruh filsafat. Kelahirannya benar-benar menjadi benteng Islam, menyelamatkan umat serta menghidupkan kembali Islam yang sebenarnya.

*) Sifat 20 [blogger's note]

Wujud (ada), Qidam (sediakala tanpa didahului dengan ketiadaan), Baqa’ (kekal), Mukhalafatuhu lil Hawadits (tidak serupa dengan segala yang baru yaitu ciptaan-Nya), Qiyamuhu Binafsihi (’berdiri’ sendiri), Wahdaniyah (esa), Qudrat (berkuasa), Iradat (berkehendak), Sama’ (melihat), Basyar (mendengar), Ilmu, (mengetahui), Hayat (hidup), Kalam (berkata-kata), Kaunuhu Qadiran (tetap selalu dalam keadaan berkuasa), Kaunuhu Muridan (tetap selalu dalam keadaan berkehendak), Kaunuhu ‘Aliman (tetap selalu dalam keadaan mengetahui), Kaunuhu Hayyan (tetap selalu dalam keadaan hidup), Kaunuhu Sami’an (tetap selalu dalam keadaan mendengar), Kaunuhu Basyiran (tetap selalu dalam keadaan melihat), Kaunuhu Mutakalliman (tetap selalu dalam keadaan berkata-kata)

Secara pembahasan akal (dalil aqli), metode Sifat 20 adalah suatu pendekatan nalar untuk memahami Tuhan dan kerja-kerjaNya. Dengan mengambil ‘hanya’ 20 sifat dari keseluruhan kesempurnaan sifat-sifat Tuhan yang tidak terbatas, dalil-dalil akal dari sifat-sifat tersebut adalah suatu alur logika yang merupakan sebuah maze yang cantik untuk mematahkan pemikiran-pemikiran yang menentang eksistensi Tuhan dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Juga sangat tegas dalam menolak presepsi yang salah tentang Tuhan.

Walaupun secara sekilas 20 sifat ini terkesan sederhana namun jika dikaji lebih dalam secara maknanya, keterkaitannya satu sifat dengan sifat yang lain, dan konsekuensi dari sifat-sifat tersebut terhadap makhluk, maka akan muncul sebuah ilmu yang sangat tajam dan terarah namun cukup berat penalarannya

Pada akhirnya, metode ini akan mengantarkan seseorang kepada pengetahuan yang tepat tentang Tuhan dengan sifat-sifat dan kerja-kerja-Nya sekaligus mengantarkan kepada ketidaktahuan tentang bagaimana sebenarnya zat Tuhan yang memang tidak akan bisa dibayangkan oleh manusia dan seluruh makhluk lainnya.

"Maka apa saja yang terlintas di hati kamu, maka Allah menyalahi yang demikian…" [Al Hadits]

[Taken from "Siapa Mujaddid Kurun ke-15", by Syeikh Imam Ashaari Ibn Muhammad At Tamimi]

One Response to “The Great Defender”

  1. Mittu Says:

    Blogwalking ..
    nice posting i found here,.. thanks for the info

Leave a Reply