Tragedi Negeri 1001 Bencana (1): Dari Aceh hingga Jogja
Tragedi Negeri 1001 Bencana (1): Dari Aceh hingga Jogja
Akhir tahun 2004, bangsa ini digemparkan oleh satu peristiwa luar biasa yang menelan korban lebih dari 230.000 nyawa. Gempa bumi yang terbesar yang pernah terukur dalam sejarah peradaban manusia dengan kekuatan 9 skala Richter mengguncang bumi Serambi Mekkah, Nangroe Atjeh Darussalam. Disusul kemudian gelombang pasang Tsunami yang menggulung ribuan nyawa. Sungguh menyedihkan memang menyaksikan kehancuran total sedemikan rupa.
Masyarakat pun tercengang-cengang melihat begitu banyaknya korban. Semua mata tertuju kepada tanah Rencong yang telah luluh lantak bergelimang ratusan ribu tubuh tak bernyawa. Dunia sesaat terhenti, tercengang, tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Maka, di tengah sibuknya bebrbagai pihak melakukan pertolongan dan evakuasi korban, sebagian orang sibuk menganalisis tentang penyebab gempa dahsyat itu, sementara yang lain sibuk merancang-rancang sistem peringatan dini (Early Warning System) untuk Tsunami.
Semua menjadi sibuk dengan ciptaan Tuhan bernama Bumi yang sekali diperintahkanNya untuk bergejolak ratusan ribu nyawa musnah. Hanya sedikit sekali yang sibuk merenungkan apa maksud Tuhan di balik kejadian. Mungkin memang hanya yang sedikit yang meyakini bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Bukan dogeng masa kecil atau mitos berumur ribuan tahun. Atau mungkin meyakini juga Tuhan itu ada tapi tidak tahu yang bagaimanakah Tuhan itu. Jadi ketika terjadi bencana begitu bahsyat pun tidak terpikir Tuhan. Yang terpikir hanyalah sebab, sebab dan sebab. Karena ini, karena itu. Padahal tidak ada satu kejadian pun di alam ini yang terjadi melainkan atas kehendak Tuhan. Dan sebab-sebab itupun Tuhan lah yang menjadikan. Lalu, bagaimana mungkin seseorang yang mengakui adanya Tuhan tidak terpikir bahwa apapun peristiwa dialam ini atas kehendak Tuhan. Bagaimana mungkin akal logika yang sanggup melahirkan teknologi2 yang begitu canggih menjadi begitu bodohnya dengan tidak melihat kuasa Tuhan disebalik setiap kejadian alam ini. Sungguh malangnya.
Dan karena kita masih juga belum tampak peranan Tuhan, maka Tuhan terus ‘anugerahi’ negeri ini 1001 bencana yang tidak putus-putusnya. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, wabah flu burung, kerusuhan, kejahatan dan sebagainya merata di seluruh negeri ini. Dari Sabang sampai Merauke. Tapi malang sungguh malang kita masih saja buta, masih tidak tampak Tuhan di balik 1001 benacan ini. MAsih saja berkutat dengan sebab, sebab dan sebab. Padahal dasar Negara ini yang pertama sekali adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa". Atau boleh jadi sebenarnya negeri ini memang bertuhankan yang bukan Tuhan. Jadi untuk menghentikan 1001 bencana ini, perduduk negeri ini tidak mau merujuk kepada ‘tuhan’ mereka karena ‘tuhan’ mereka bodoh, tidak tahu apa-apa, tidak ada kuasa sehingga 1001 bencana ini pun bukan ciptaannya.
Hinggalah hari ini Tuhan perintahkan kembali Bumi ini bergetar hebat hingga 6000 nyawa musnah dalam 57 detik saja. Rupanya kali ini Tuhan bertukar ’strategi’. Di saat penduduk Jogja mencurahkan perhatiannya dengan ancaman Gunung Merapi ternyata bukan gunung itu yang Tuhan jadikan sebab musnahnya ribuan nyawa. Tapi rupanya masih juga kita tuli bisu dan buta. Kini justru sibuk memikirkan bagaimana mengantisipasi agar jika terjadi gempa tidak memakan banyak korban. Apakah masih belum cukup jelas bagaiamana Tuhan bertindak kali ini? Jika kita siap dengan gunung berapi tapi kemudian Tuhan binasakan kita dengan gempa bumi, apakah kalau kita siap dengan gempa bumi Tuhan tidak akan binasakan kita dengan sebab-sebab lain? Sampai kapankah kita akan mengerti?
Kuasa Tuhan
Aqidah umat sudah terlalu rusaknya
Tiap kejadian tidak dikaitkan dengan Tuhan
"Karena" atau "sebab"lah yang merusakkan
Bukan kehendak dan kuasa Tuhan yang melakukan
Banjir berlaku, hujan lebatlah yang menjadikan
Bukan Tuhan lakukan untuk peringatan
Gunung berapi meletus memusnahkan nyawa dan harta
Belerang yang amat panas di dalamnya yang meledakkan
Bumi bergoncang gempa bumi namanya
Meruntuhkan apa saja
Ada sebab-sebab tertentu yang menggoncang
Padahal itu adalah ancaman Tuhan
kepada mereka yang membuat mungkar
Hukuman yang dilakukan di dunia lagi,
agar manusia sadar
Memanglah Tuhan telah membuat ketentuan
Apa saja kejadian baik dan buruk
Tuhan jadikan "sebab"nya dahulu
"Sebab" kan Tuhan yang menjadikan untuk berlaku
Artinya bukan "sebab" yang melakukan,
tapi Tuhan yang menjadikan "sebab" dan yang akan
melakukan
Begitulah rusaknya aqidah umat termasuk yang Islam
Mereka telah syirik dengan Tuhan karena keyakinan
Segala-galanya tidak akan terjadi kalau bukan kehendak
Tuhan
Bukan sebab-sebab yang dijadikan, yang melakukan
Betulkan aqidah, takutilah Tuhan yang menjadikan apa
saja
- Lyric of Mawaddah International Album -
[Agiest of Jogja Never ending Asia]