The Truman Show, Kali Ciliwung, dan Poligami

http://easternearth.wordpress.com/2006/12/05/the-truman-show-kali-ciliwung-dan-poligami/


The Truman Show, Kali Ciliwung, dan Poligami


Hangat dalam pemberitaan media, ketika seorang dai paling populer di negeri ini yang terkenal dengan keharmonisan rumah

tangganya, ternyata kemudian telah menikah untuk kedua kalinya. Hasilnya, tema ini sepertinya dengan sukses menyatukan

pemberitaan formal dan infotainment. Masyarakat menyambut dengan pro-kontra yang luar biasa. Bahkan sampai peringkat presiden

dan para menteri pun menjadi sibuk terseret pusaran tema ini dengan memperketat aturan yang dibuat oleh pemerintah negara ini

tentang poligami.

Inilah umumnya pendapat masyarakat yang terrekam oleh media. Yang tidak setuju dengan poligami mengatakan poligami adalah

satu pembenaran untuk memuaskan nafsu laki-laki. Sementara yang setuju berdalih bahwa poligami dibenarkan dalam Islam

sehingga satu kesalahan jika mengharamkan poligami. Sedangkan tokoh da’i tersebut menyatakan bahwa salah satu motivasinya

menikah untuk kedua kalinya adalah berangkat dari keprihatinan bahwa poligami saat ini dianggap seolah-olah satu kejahatan dan

pelakunya dinilai negatif oleh masyarakat. Padahal ia adalah dibenarkan dalam Islam dengan syarat-syarat tertentu. Kontroversi ini terus

berlanjut dengan berbagai macam alasan yang dikemukakan masing-masing pihak.

Kita biarkan saja dulu dulu pro-kontra itu. Biarkan tiap orang mengungkapkan argumentasinya masing-masing. Mungkin sebagian Anda pernah mendengar The Truman Show? Sebuah naskah yang kemudian difilmkam, berkisah tentang seseorang yang sepanjang hidupnya, sejak masih janin sampai dewasanya adalah skenario sebuah reality show stasiun televisi. Studionya sebesar kota tempat ia tinggal dan kehidupannya mengalir mengikuti skenario bersama penduduk kota itu yang semuanya aktor. Dia adalah aktor utama yang

sama sekali tidak sedang berakting dalam perannya. Truman ia tidak menyadari semua itu. Baginya itulah yang kenyataan yang ia jumpai

sehari-hari. Itulah dunianya, tidak ada yang lain.

Sekarang kita andaikan Truman Burbank diskenariokan lahir, tinggal dan besar di Jakarta, tepatnya di sebelah Kali Ciliwung. Hanya saja di

dunia Truman tinggal ini tidak dikenali fotografi dan teknologi video. Dia juga tidak pernah meninggalkan Jakarta. Jadi, seumur

hidupnya ia tidak pernah melihat sungai lain selain Kali Ciliwung dan sungai-sungai di Jakarta lainnya. Maka, kalau disebut kata

’sungai’ maka yang terlintas dalam pikirannya adalah selokan raksasa penuh sampah, dengan airnya yang kehitaman dan berbau

busuk. Kemudian suatu hari datang seorang pendatang dari sebuah desa di pelosok, bertemu dengan Truman dan berkenalan.

Sampailah ia menceritakan kepada Truman bahwa sudah menjadi kebiasaanya di desa bahwa ia tiap sore ia selalu mandi di hulu

sungai. Segar sekali katanya. Truman terkejut bukan main. Dalam pikirannya ia mengatakan bahwa orang ini mungkin gila atau luar

biasa bodoh. Atau mungkin ia sedang menjalani ritual aneh untuk menguasai ilmu sihir. Bagaimana mungkin di sungai dikatakan

segar? Bukankah sungai itu kotor, busuk dan menjijikkan..? Inilah kebingungannya.

Mungkin kita juga sedang mengalami kebingungan yang sama dengan Truman. Kita sudah terpisah begitu jauh  Rasulullah SAW.

Baginda lah sumber mata air kebenaran yang telah mengalir sepanjang hampir 1,5 millenium. Tidak heran jika apa yang kita jumpai

sekarang telah keruh dan menghitam. Agama Islam yang kini kita amalkan mungkin sudah jauh berbeda dengan apa yang Baginda

ajarkan. Syahadat, sholat, puasa secara lahiriah mungkin masih serupa tapi ilmu, iman, ketaqwaan, akhlak, cara berpikir, cara

bertindak dan cara merasa mungkin sudah berbeda bertolak belakang. Maka sangat wajar jika muncul kontroversi dalam memahami

syariat Islam. Misalnya tentang poligami. Bahkan sebagian orang yang mengamalkannya pun sebenarnya masih meraba-raba dalam

kegelapan, mengapa dan bagaimana sebenarnya Rasulullah berpoligami. Jangankan tentang poligami yang hukumnya mubah/boleh,

bahkan sholat wajib pun ternyata sudah sangat berbeda jauh dengan Baginda dan para Sahabat. Sholat Sayidina Ali adalah sampai

panah  tidak tertancap tidak terasa ketika dicabut. Sholat Sayidina Umar adalah sampai terdengar deguban jantungnya tiga shaf

kebelakang karena begitu takutnya kepada Tuhan. Sholat Sayidina Abu Bakar adalah sampai Tuhan tunjukkan bau hangus hatinya

yang terbakar rasa takutnya kepada Tuhan. Sholat Rasulllah? Entahlah tak terbayangkan lagi. Sholat kita?

Tidak ada jaminan bahwa Islam yang kita amalkan hari ini masih tepat sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Terbukti sholat kita

ternyata bukan sholat Rasulullah. Mungkin perkara yang lebih besar seperti tujuan hidup kita juga tidak sama dengan tujuan hidup

Rasulullah dan para sahabat. Contoh lain adalah pelaksanaan syariat Islam. Rupanya yang dimaksudkan adalah pelaksanaan

hukuman cambuk, potong tangan atau rajam. Seperti di Aceh, dengan pelaksanaan hukuman cambuk misalnya diharapkan

kemaksiatan akan habis diberantas karena masyarakat takut  kena hukum. Konon kabarnya begitulah syariat Islam.

Padahal apa yang berlaku di zaman Nabi adalah hukuman itu bukan untuk menakuti masyarakat tapi justru datang dari orang-orang yang

terlanjur berbuat dosa untuk menebus dosanya agar terhindar dari siksa di akhirat. Didorong rasa cinta dan takut Tuhan yang

tertanam kuat dalam jiwa tauhid mereka, maka mereka mendatangi Baginda dan memohon-mohon untuk dihukum. Tidak ada polisi

syariat, sedangkan Baginda cenderung menghindar. Bagi para sahabat, syariat adalah kecil, Tuhan pemilik syariat itulah yang besar

dan agung. Itulah perbedaan konsep hukuman menurut Islam dan konsep hukuman menurut ideologi karangan manusia.

Rupa-rupanya kita belum memahami bagaimana falsafah dalam penerapan hukuman dalam Islam. Baik yang memperjuangkannya

maupun yang menenangnya sama-sama tidak faham. Akhirnya yang ada hanya pro-kontra yang kedua-duanya sama-sama tidak

membawa kebenaran. Tidak heran jika masyarakat Rasulullah aman damai harmoni, sedangkan masyarakat kita rusak, jahat dan

penuh iri dengki.

Bertambahlah satu bukti betapa kita sudah terasing dari agama kita sendiri. Maka ketika kita berbicara tentang pernikahan boleh jadi

tujuan dan falsafah pernikahan yang kita pahami pun bukan seperti apa yang  Rasulullah ajarkan 1400 tahun yang lalu. Yang kita

pahami dan yang kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari, pernikahan adalah istilah lain dari hubungan biologis laki-laki dan

perempuan. Maka begitu mendengar kata nikah kawin maka terbayanglah hal-hal semacam itu. Dan ketika kita mendengar seorang

memiliki lebih dari satu isteri maka yang terbayang adalah seorang laki-laki  gila perempuan yang tidak mampu mengendalikan

nafsunya. Juga dalam dunia kita ini, kita juga tidak pernah dapati di zaman ini sesorang yang tidak bercumbu rayu dengan calon

suami/isterinya sebelum menikah maka ketika kita mendengar seorang laki-laki menikah lagi maka dalam kita akan mengatakan dia

telah berselingkuh.

Ditambah lagi tema poligami ini merebak bersamaan dengan pemberitaan lain yang mengungkap hubungan haram

seorang wakil rakyat. Sadar atau tidak, alam pikiran kita akan mengaitkan kedua peristiwa itu dan menarik kesimpulan yang

tertanam dalam pikiran kita bahwa hubungan laki-laki dan perempuan baik yang halal maupun yang haram adalah tidak lebih adalah

soal pemuasan nafsu semata. Akhirnya kita ibarat hidup dalam The Truman Show versi Jakarta yang sehari-hari menyaksikan ’sungai’

pernikahan dan poligami yang sudah begitu rusak dan tercemar parah. Rusak oleh miskinnya ilmu agama kita dan tercemar oleh para

pengamalnya yang  mengamalkannya sesuka nafsu. Ya, kita tidak pernah melihat selain daripada itu.

Ternyata dibalik pro-kontra sempit seputar poligami ini terungkaplah suatu fenomena yang belaku luas bahwa agama kita

ternyata berbeda dengan agama Nabi kita. Baginda ke timur, kita ke barat. Baginda terbang ke langit, kita menghujam ke bumi. Jika

kita memahami situasi ini mudah-mudahan kita dapat lebih bijak dalam menyikapi kontroversi-kontroversi bertema syariat agama.

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan adalah Maha Adil dan Bijaksana. Maha Suci Tuhan dari menzalimi hamba-hambanya.

Jangan sampai rusak akidah kita dengan menuduh Tuhan zalim atau kita menghalalkan sesuatu yang diharamkan-Nya atau

mengharamkan sesuatu yang dihalalkan-Nya. Baik dalam pemikiran, lisan maupun dengan membuat peraturan-peraturan yang

menentang syariatnya-Nya. Ini bisa menjadi hal yang berat karena dalam kajian ilmu akidah, jika akidah rusak maka berarti kekal di

dalam Neraka.

Jika di mata kita syariat-Nya terkesan buruk, pastilah karena kita belum cukup ilmu untuk memahaminya dan karena kita belum

pernah melihat bagaimana seharusnya syariat itu dijalankankan. Syariat yang telah ditetapkan Tuhan itu adalah satu hal, sedangkan

baik buruk dalam pengamalan syariat itu adalah hal lain. Syariat hanyalah kulit rangka semata yang tidak boleh diamalkan tanpa

menyertakan isinya sekaligus yaitu iman, niat, ilmu, pemahaman serta ahklak. Tanpa itu semua syariat akan kehilangan ruh. Amal

ibadah tanpa ruh adalah amal ibadah bangkai. Ia tertolak di sisi Tuhan.

Kembali soal poligami. Bagaimanapun hukum asal poligami dalam Islam adalah yang mubah saja, tidak wajib tidak pula sunat. Sikap

terbaik yang paling sederhana, tidak perlu kita menghabiskan energi untuk mempertikaikan perkara mubah yang terbukti tidak cukup

ilmu kita, sementara masih banyak hal wajib yang lebih penting yang tidak kita ambil berhatian. Sholat lima waktu wajib, namun

masih kita lalaikan. Menutup aurat wajib, tapi kita bersikap macam tidak pernah tahu. Menuntut ilmu agama untuk bekal dunia

akhirat wajib, tapi kita sama sekali tidak ingin meluangkan waktu. Mencari pemimpin kebenaran yang mampu menyadarkan kita dari tipuan ‘reality show’ akhir zaman jauh lebih wajib lagi, tapi ternyata kita tidak benar-benar ingin mengetahui kebenaran itu. Ya,

rupanya memang kitalah ‘Truman-truman’ itu, yang hidup dalam studio palsu akhir zaman.

"Kebenaran itu tidak ada dua, tidak ada tiga, tidak ada sepuluh, tidak ada seterusnya. Kebenaran hanya semata-mata satu…"
(
‘Syuaib bin Sholeh’ - The Miraculous Leader  )


[Agiest, exiting the 'Truman's studio']

2 Responses to “The Truman Show, Kali Ciliwung, dan Poligami”

  1. Mahargyani Says:

    huhuhuhuhuhu…terharu ian….
    ah…rasanya harus banyak merenung nih….
    makasih ya ian untuk tulisan yang menyentuh…

  2. mypakfa Says:

    Menuntut Ilmu Tanpa Berpikir, Sia-Sia;
    Berpikir Tanpa Bekal Ilmu, Berbahaya;

    Kawanku, rujuklah ilmu; AlQuran-AsSunah-Ijtihad agar engkau berilmu dalam berpikir, ingatlah tanpa itu bisa berbahaya.

Leave a Reply