http://easternearth.wordpress.com/2007/04/17/iran-crisis-the-empire-strikes-back-or-something-else/

Krisis nuklir Iran mencuri perhatian dunia. Perseteruan Iran dengan
AS dan beberapa negara lain soal pengembangan teknologi nuklir menuai
beragam reaksi. Sebagian pihak menyanjung kesan berani yang dtunjukkan
oleh Iran. Namun, apakah yang sebenarnya terjadi?
Iran, sebuah negara di Teluk Persia. Inilah negara bangsa Persia.
Bangsa Persia memiliki catatan yang cukup panjang dalam sejarah. Dan
sejarah Iran dimulai lebih dari 3000 tahun yang lalu ketika suku bangsa
Arya bermigrasi ke wilayah itu. Inilah cikal bakal bangsa Persia. Dan
ketika itu juga wilayah tersebut mendapatkan namanya yaitu ‘Iran’ yang
berarti ‘Tanah Bangsa Arya’ (‘The Land of The Aryan‘)
Bangsa Persia mencapai kejayaannya sekitar menjelang tahun 500 SM
sebagai sebuah negara adikuasa yang menguasai wilayah Timur dan Barat
yaitu dari kawasan India saat ini sampai ke Laut Tengah dan Afrika
Utara. Tercatat sebagai ‘was the largest empire the world had ever seen’. Imperium ini diasaskan oleh Raja Kûrush (Cyrus the Great), diyakini sebagai sosok legendaris yang disebut sebagai Dzulqarnain (berarti: dua tanduk). Raja Kûrush
berhasil menundukkan serangan bangsa Yunani dari Lydia atas kerajaan
Persia dan juga mengalahkan kerajaan Babilonia sehingga bangsa Israel
di waktu itu terbebas dari penjajahan Babilonia. Sepeninggal Raja
Kûrush imperium ini diwariskan kepada penerusnya.
Puluhan tahun kemudian bangsa Persia melakukan ekspansi ke wilayah
Athena dan Sparta. Namun upaya Persia untuk menundukkan bangsa Yunani
ini menemui kegagalan. Yang pertama di masa pemerintahan Raja
Dârayavahush (Darius) mereka dikalahkan oleh pasukan Athena di Marathon
dan yang kedua di masa pemerintahan Raja Khshayarsha (Xerxes) mereka
dikalahkan di Platea setelah sebelumnya berhasil mengatasi 7000 orang
pasukan penghalang Yunani-Sparta di Thermopylae dan menguasai Athena. (Iran mengkritik film Holywood, ‘300′ (2007), yang dibuat dengan sudut pandang Yunani.) Selanjutnya
perseteruan menjadi lebih stabil sebelum satu abad kemudian wilayah
Persia dikuasai oleh Alexander of Macedonia pada abad ke-4 SM.

Kemudian setelah pengaruh Alexander memudar, maka
wilayah ini menjadi rebutan beberapa dinasti sebelum kemudian kembali
ke tangan bangsa Persia dan kembali menjadi sebuah imperium. Saat itu
imperium Romawi telah muncul sebagai kekuatan di Eropa dan Laut Tengah.
Maka perseteruan dua negara adikuasa ini terus belangsung berabad-abad
sampai akhirnya kemunculan Islam di abad ke-7 M menggulung kekuasaan
Romawi dan mengubah bangsa Persia-Majusi menjadi muslim.
Namun, tidak lama kemudian muncul ajaran yang memisahkan diri dari
ajaran Islam yang menjadikan bangsa Persia sebagai media
perkembangbiakkannya. Itulah ajaran Syiah yang meniti di atas semangat
chauvinisme bangsa Arya. Penganut Syiah memuja keluarga dan turunan
Nabi Muhammad namun tidak pada tempatnya. Mereka sangat membanggakan
darah keturunan Sayidina Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad. Mengapa?
Karena satu-satunya keturunan Sayidina Husan yang selamat dari
pembantaian di Karbala adalah Sayidina Ali Zainal Abidin yang ibundanya
adalah seorang putri raja Persia yang masuk Islam kemudian dinikahi
oleh Sayidina Husain. Dengan kata lain, darah
bangsa Arya menyatu dengan darah Rasul-rasul. Artinya, chauvinisme dan
ideologi kebangsaan telah mencampuri kemurnian ajaran Islam.
Ajaran Syiah dirintis oleh Abdullah bin Saba’
seorang Yahudi yang menyatakan diri menjadi muslim di masa Khalifah
Utsman bin Affan. Ajaran ini tidak mendapat tempat di waktu itu dan
bahkan ketika Sayidina Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah berikutnya
Abdullah bin Saba’ diusir dari Madinah. Namun akhirnya ajaran ini terus
bekembang dan akhirnya dapat dikatakan telah menjadi agama yang
tersendiri, terpisah dari Islam salah satunya karena kitab agamanya
yang juga tersendiri, disebut ‘Al Quran’ Fathimiyah.
Kitab ini memuat ayat-ayat satu setengah kali lebih banyak daripada Al
Quran sebenarnya. Dengan kata lain mengatakan bahwa Rasulullah telah
menyembunyikan wahyu-wahyu tertentu untuk disampaikan hanya kepada
keluarga beliau. Artinya, Rasulullah tidak besifat ‘tabligh‘
atau ‘menyampaikan’. Sedangkan sifat-sifat Allah dan sifat Rasul adalah
prinsip-prinsip paling mendasar dalam Islam. Dengan demikian kita bisa
memahami mengapa seluruh ulama bersuara bulat dalam fatwa mereka bahwa
agama Syiah adalah agama tersendiri dan bukan bagian dari Islam.
Pada perkembangannya agama Syiah ini menjadi agama bangsa yang
menjadi penyokong nasionalisme Iran. Sebagaimana juga bangsa Israel
dengan agama Yahudinya. Berbeda dengan nasionalisme sekuler bangsa
lain, nasionalisme keduanya adalah bagian pilar-pilar keimanan mereka.
Kemiripan keduanya tentu bukan sesuatu yang kebetulan jika melihat akar
kemunculan agama Syiah di tangan seorang Abdullah bin Saba’.

Dan kini nasionalisme Iran tampil ke panggung dunia, membawa
semangat dan keyakinan agama Syiah untuk menyiapkan kedatangan ‘Al
Mahdi’ versi agama Syiah yang mereka tunggu tunggu kedatangannya. Dalam
keimanan agama Syiah ‘Al Mahdi’ ini diyakini akan membawa kemenangan
besar bagi agama Syiah diatas agama-agama lain.
Namun penganut agama Syiah bukan satu-satunya yang menantikan
kedatangan sosok ‘Al Mahdi’. Orang-orang Yahudi juga menantikan ‘Al
Mahdi’-nya untuk menjadikan bangsa Israel sebagai bangsa di atas segala
bangsa. Sedangkan penganut Christianity menantikan kedatangan kembali Jesus ke dunia.
Begitu juga pemeluk agama para Nabi dan Rasul: Islam. Meskipun bukan
bagian dari 6 Rukun (pilar) Iman, namun Islam telah dengan jelas
menyebutkan kedatangan dua pribadi yang dijanjikan: Imamul Mahdi yang
sebenarnya dan Isa bin Maryam Rasulullah yang akan turun kembali,
mengikuti syariat Nabi Muhammad dan menegakkan yang haq di atas yang
batil serta memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah
dipenuhi oleh kezaliman. Siapa benar?
Lebih menarik lagi, dalam eskatologi Islam disebutkan:
“The Dajjal would be followed by seventy thousand Jews of Isfahan wearing Persian shawls…” -Shahih Muslim-
(Isfahan: nama sebuah kota di Iran.)
Dan kini, krisis Iran tidak lagi sesederhana kelihatannya…