The Truman Show, Kali Ciliwung, dan Poligami

December 5th, 2006 by easternearth

http://easternearth.wordpress.com/2006/12/05/the-truman-show-kali-ciliwung-dan-poligami/


The Truman Show, Kali Ciliwung, dan Poligami


Hangat dalam pemberitaan media, ketika seorang dai paling populer di negeri ini yang terkenal dengan keharmonisan rumah

tangganya, ternyata kemudian telah menikah untuk kedua kalinya. Hasilnya, tema ini sepertinya dengan sukses menyatukan

pemberitaan formal dan infotainment. Masyarakat menyambut dengan pro-kontra yang luar biasa. Bahkan sampai peringkat presiden

dan para menteri pun menjadi sibuk terseret pusaran tema ini dengan memperketat aturan yang dibuat oleh pemerintah negara ini

tentang poligami.

Inilah umumnya pendapat masyarakat yang terrekam oleh media. Yang tidak setuju dengan poligami mengatakan poligami adalah

satu pembenaran untuk memuaskan nafsu laki-laki. Sementara yang setuju berdalih bahwa poligami dibenarkan dalam Islam

sehingga satu kesalahan jika mengharamkan poligami. Sedangkan tokoh da’i tersebut menyatakan bahwa salah satu motivasinya

menikah untuk kedua kalinya adalah berangkat dari keprihatinan bahwa poligami saat ini dianggap seolah-olah satu kejahatan dan

pelakunya dinilai negatif oleh masyarakat. Padahal ia adalah dibenarkan dalam Islam dengan syarat-syarat tertentu. Kontroversi ini terus

berlanjut dengan berbagai macam alasan yang dikemukakan masing-masing pihak.

Kita biarkan saja dulu dulu pro-kontra itu. Biarkan tiap orang mengungkapkan argumentasinya masing-masing. Mungkin sebagian Anda pernah mendengar The Truman Show? Sebuah naskah yang kemudian difilmkam, berkisah tentang seseorang yang sepanjang hidupnya, sejak masih janin sampai dewasanya adalah skenario sebuah reality show stasiun televisi. Studionya sebesar kota tempat ia tinggal dan kehidupannya mengalir mengikuti skenario bersama penduduk kota itu yang semuanya aktor. Dia adalah aktor utama yang

sama sekali tidak sedang berakting dalam perannya. Truman ia tidak menyadari semua itu. Baginya itulah yang kenyataan yang ia jumpai

sehari-hari. Itulah dunianya, tidak ada yang lain.

Sekarang kita andaikan Truman Burbank diskenariokan lahir, tinggal dan besar di Jakarta, tepatnya di sebelah Kali Ciliwung. Hanya saja di

dunia Truman tinggal ini tidak dikenali fotografi dan teknologi video. Dia juga tidak pernah meninggalkan Jakarta. Jadi, seumur

hidupnya ia tidak pernah melihat sungai lain selain Kali Ciliwung dan sungai-sungai di Jakarta lainnya. Maka, kalau disebut kata

’sungai’ maka yang terlintas dalam pikirannya adalah selokan raksasa penuh sampah, dengan airnya yang kehitaman dan berbau

busuk. Kemudian suatu hari datang seorang pendatang dari sebuah desa di pelosok, bertemu dengan Truman dan berkenalan.

Sampailah ia menceritakan kepada Truman bahwa sudah menjadi kebiasaanya di desa bahwa ia tiap sore ia selalu mandi di hulu

sungai. Segar sekali katanya. Truman terkejut bukan main. Dalam pikirannya ia mengatakan bahwa orang ini mungkin gila atau luar

biasa bodoh. Atau mungkin ia sedang menjalani ritual aneh untuk menguasai ilmu sihir. Bagaimana mungkin di sungai dikatakan

segar? Bukankah sungai itu kotor, busuk dan menjijikkan..? Inilah kebingungannya.

Mungkin kita juga sedang mengalami kebingungan yang sama dengan Truman. Kita sudah terpisah begitu jauh  Rasulullah SAW.

Baginda lah sumber mata air kebenaran yang telah mengalir sepanjang hampir 1,5 millenium. Tidak heran jika apa yang kita jumpai

sekarang telah keruh dan menghitam. Agama Islam yang kini kita amalkan mungkin sudah jauh berbeda dengan apa yang Baginda

ajarkan. Syahadat, sholat, puasa secara lahiriah mungkin masih serupa tapi ilmu, iman, ketaqwaan, akhlak, cara berpikir, cara

bertindak dan cara merasa mungkin sudah berbeda bertolak belakang. Maka sangat wajar jika muncul kontroversi dalam memahami

syariat Islam. Misalnya tentang poligami. Bahkan sebagian orang yang mengamalkannya pun sebenarnya masih meraba-raba dalam

kegelapan, mengapa dan bagaimana sebenarnya Rasulullah berpoligami. Jangankan tentang poligami yang hukumnya mubah/boleh,

bahkan sholat wajib pun ternyata sudah sangat berbeda jauh dengan Baginda dan para Sahabat. Sholat Sayidina Ali adalah sampai

panah  tidak tertancap tidak terasa ketika dicabut. Sholat Sayidina Umar adalah sampai terdengar deguban jantungnya tiga shaf

kebelakang karena begitu takutnya kepada Tuhan. Sholat Sayidina Abu Bakar adalah sampai Tuhan tunjukkan bau hangus hatinya

yang terbakar rasa takutnya kepada Tuhan. Sholat Rasulllah? Entahlah tak terbayangkan lagi. Sholat kita?

Tidak ada jaminan bahwa Islam yang kita amalkan hari ini masih tepat sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Terbukti sholat kita

ternyata bukan sholat Rasulullah. Mungkin perkara yang lebih besar seperti tujuan hidup kita juga tidak sama dengan tujuan hidup

Rasulullah dan para sahabat. Contoh lain adalah pelaksanaan syariat Islam. Rupanya yang dimaksudkan adalah pelaksanaan

hukuman cambuk, potong tangan atau rajam. Seperti di Aceh, dengan pelaksanaan hukuman cambuk misalnya diharapkan

kemaksiatan akan habis diberantas karena masyarakat takut  kena hukum. Konon kabarnya begitulah syariat Islam.

Padahal apa yang berlaku di zaman Nabi adalah hukuman itu bukan untuk menakuti masyarakat tapi justru datang dari orang-orang yang

terlanjur berbuat dosa untuk menebus dosanya agar terhindar dari siksa di akhirat. Didorong rasa cinta dan takut Tuhan yang

tertanam kuat dalam jiwa tauhid mereka, maka mereka mendatangi Baginda dan memohon-mohon untuk dihukum. Tidak ada polisi

syariat, sedangkan Baginda cenderung menghindar. Bagi para sahabat, syariat adalah kecil, Tuhan pemilik syariat itulah yang besar

dan agung. Itulah perbedaan konsep hukuman menurut Islam dan konsep hukuman menurut ideologi karangan manusia.

Rupa-rupanya kita belum memahami bagaimana falsafah dalam penerapan hukuman dalam Islam. Baik yang memperjuangkannya

maupun yang menenangnya sama-sama tidak faham. Akhirnya yang ada hanya pro-kontra yang kedua-duanya sama-sama tidak

membawa kebenaran. Tidak heran jika masyarakat Rasulullah aman damai harmoni, sedangkan masyarakat kita rusak, jahat dan

penuh iri dengki.

Bertambahlah satu bukti betapa kita sudah terasing dari agama kita sendiri. Maka ketika kita berbicara tentang pernikahan boleh jadi

tujuan dan falsafah pernikahan yang kita pahami pun bukan seperti apa yang  Rasulullah ajarkan 1400 tahun yang lalu. Yang kita

pahami dan yang kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari, pernikahan adalah istilah lain dari hubungan biologis laki-laki dan

perempuan. Maka begitu mendengar kata nikah kawin maka terbayanglah hal-hal semacam itu. Dan ketika kita mendengar seorang

memiliki lebih dari satu isteri maka yang terbayang adalah seorang laki-laki  gila perempuan yang tidak mampu mengendalikan

nafsunya. Juga dalam dunia kita ini, kita juga tidak pernah dapati di zaman ini sesorang yang tidak bercumbu rayu dengan calon

suami/isterinya sebelum menikah maka ketika kita mendengar seorang laki-laki menikah lagi maka dalam kita akan mengatakan dia

telah berselingkuh.

Ditambah lagi tema poligami ini merebak bersamaan dengan pemberitaan lain yang mengungkap hubungan haram

seorang wakil rakyat. Sadar atau tidak, alam pikiran kita akan mengaitkan kedua peristiwa itu dan menarik kesimpulan yang

tertanam dalam pikiran kita bahwa hubungan laki-laki dan perempuan baik yang halal maupun yang haram adalah tidak lebih adalah

soal pemuasan nafsu semata. Akhirnya kita ibarat hidup dalam The Truman Show versi Jakarta yang sehari-hari menyaksikan ’sungai’

pernikahan dan poligami yang sudah begitu rusak dan tercemar parah. Rusak oleh miskinnya ilmu agama kita dan tercemar oleh para

pengamalnya yang  mengamalkannya sesuka nafsu. Ya, kita tidak pernah melihat selain daripada itu.

Ternyata dibalik pro-kontra sempit seputar poligami ini terungkaplah suatu fenomena yang belaku luas bahwa agama kita

ternyata berbeda dengan agama Nabi kita. Baginda ke timur, kita ke barat. Baginda terbang ke langit, kita menghujam ke bumi. Jika

kita memahami situasi ini mudah-mudahan kita dapat lebih bijak dalam menyikapi kontroversi-kontroversi bertema syariat agama.

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan adalah Maha Adil dan Bijaksana. Maha Suci Tuhan dari menzalimi hamba-hambanya.

Jangan sampai rusak akidah kita dengan menuduh Tuhan zalim atau kita menghalalkan sesuatu yang diharamkan-Nya atau

mengharamkan sesuatu yang dihalalkan-Nya. Baik dalam pemikiran, lisan maupun dengan membuat peraturan-peraturan yang

menentang syariatnya-Nya. Ini bisa menjadi hal yang berat karena dalam kajian ilmu akidah, jika akidah rusak maka berarti kekal di

dalam Neraka.

Jika di mata kita syariat-Nya terkesan buruk, pastilah karena kita belum cukup ilmu untuk memahaminya dan karena kita belum

pernah melihat bagaimana seharusnya syariat itu dijalankankan. Syariat yang telah ditetapkan Tuhan itu adalah satu hal, sedangkan

baik buruk dalam pengamalan syariat itu adalah hal lain. Syariat hanyalah kulit rangka semata yang tidak boleh diamalkan tanpa

menyertakan isinya sekaligus yaitu iman, niat, ilmu, pemahaman serta ahklak. Tanpa itu semua syariat akan kehilangan ruh. Amal

ibadah tanpa ruh adalah amal ibadah bangkai. Ia tertolak di sisi Tuhan.

Kembali soal poligami. Bagaimanapun hukum asal poligami dalam Islam adalah yang mubah saja, tidak wajib tidak pula sunat. Sikap

terbaik yang paling sederhana, tidak perlu kita menghabiskan energi untuk mempertikaikan perkara mubah yang terbukti tidak cukup

ilmu kita, sementara masih banyak hal wajib yang lebih penting yang tidak kita ambil berhatian. Sholat lima waktu wajib, namun

masih kita lalaikan. Menutup aurat wajib, tapi kita bersikap macam tidak pernah tahu. Menuntut ilmu agama untuk bekal dunia

akhirat wajib, tapi kita sama sekali tidak ingin meluangkan waktu. Mencari pemimpin kebenaran yang mampu menyadarkan kita dari tipuan ‘reality show’ akhir zaman jauh lebih wajib lagi, tapi ternyata kita tidak benar-benar ingin mengetahui kebenaran itu. Ya,

rupanya memang kitalah ‘Truman-truman’ itu, yang hidup dalam studio palsu akhir zaman.

"Kebenaran itu tidak ada dua, tidak ada tiga, tidak ada sepuluh, tidak ada seterusnya. Kebenaran hanya semata-mata satu…"
(
‘Syuaib bin Sholeh’ - The Miraculous Leader  )


[Agiest, exiting the 'Truman's studio']

Messiah dalam Lipatan Sejarah

November 13th, 2006 by easternearth

http://easternearth.wordpress.com/2006/11/13/messiah-dalam-lipatan-sejarah/


Messiah dalam Lipatan Sejarah

Dalam satu abad terakhir ini seluruh umat manusia di muka Bumi berada dalam satu krisis yang luar biasa. Peperangan, perebutan kuasa, invasi, pembunuhan massal, pemusnahan etnis, kemiskinan, kelaparan, kehancuran moral, wabah penyakit baru, kerusakan lingkungan yang parah, dsb. Di abad ini pula terjadi peristiwa yang tidak pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia sebelumnya: Perang Dunia. Konflik yang menelan korban 10 juta jiwa Perang Dunia I dan 60 juta jiwa selama Perang Dunia II. Dan secara kesuluruhan hampir 200 juta jiwa manusia menjadi korban seluruh kekerasan yang terorganisasi selama abad ke-20.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, dapat kita saksikan bahawa manusia muncul dan berkuasa di muka bumi, saling berhadapan dan mengusai bumi ini silih berganti. Masing-masing memiliki coraknya yang tersendiri. Tapi meskipun begitu, sesungguhnya di muka bumi ini hanya ada dua pihak saja: pihak kebenaran atau pihak selain kebenaran. Kebenaran adalah datang dari Tuhan, maka pihak kebenaran adalah pihak yang tunduk kepada Tuhan berserta seluruh peraturan yang ditetapkanNya kepada manusia. Selain itu tentu pihak-pihak bukan kebenaran.

"Sesungguhnya kebenaran itu hanyalah datang dari Tuhanmu, maka janganlah kamu menjadi orang yang menolaknya." (Al Baqarah 147)

Maka pahamlah kita, bahwa Rasul-rasul adalah para pemimpin di pihak kebenaran ini. Dan meskipun mereka terpisah ratusan tahun satu sama lain, namun corak perjuangan mereka adalah sama. Begitu pula reaksi masyarakat dan penguasa di zaman mereka masing-masing adalah sama. Dan bagaimana akhirnya mereka selalu mengalahkan pihak-pihak lain yang menentang, sekuat apapun mereka. Dan kebenaran ini jugalah yang menjadi penakhluk kepada penguasa yang zalim, tirani atau diktator yang menindas kepada kebanyakan manusia.

Meskipun begitu tiap Rasul memiliki taraf yang berbeda dalam peranannya sebagai Penyelamat. Sebagian Rasul, dalam tugasnya membawa manusia kepada Tuhan dan menyelamatkan manusia dari api Neraka memang tidak berada sezaman dengan para penguasa besar dunia. Sementara sebagian Rasul yang lain terpaksa berhadapan langsung dengan para tiran. Setelah kezaliman dan penindasan runtuh dibawah telapak kaki mereka sebagian dari mereka Tuhan lantik menjadi penguasa dunia yang memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana bumi ini telah dipenuhi dengan kezaliman sebelumnya.

Dan paham jugalah kita akan satu sunnatullah. Bahwa jika Tuhan menghendaki satu kebangkitan kebenaran di suatu zaman untuk mengatasi segala kezaliman, maka pertama Tuhan akan melakukan ‘intervensi’ dengan melantik satu sosok pemimpin yang akan menyelamatkan manusia. Fenomena ini senantisa berulang dalam sejarah. Maka, ketika terjadi satu kehancuran masyarakat yang luar biasa, baik kerena penjajahan, penindasan, bencana maupun krisis moral, manusia akan menanti-nanti datangnya seorang penyelamat atau messiah. Kemudian muncullah orang-orang yang mencoba memperbaiki kerusakan itu dengan berbagai metode dan corak perjuangan. Tapi meskipun begitu, penyelamat sejati yang dinantikan oleh manusia adalah seperti juga para Rasul, mereka berada di pihak Tuhan, tunduk kepada Tuhan dan kepada ajaran-ajaranNya. Mereka juga menjalani takdir yang kurang lebih sama. Dimusuhi oleh penguasa, difitnah membawa kesesatan atau sihir, upaya pembunuhan, mengalami pengasingan, pendukung yang sedikit jumlahnya namun sangat yakin kepada mereka dan juga mendapatkan bantuan-bantuan ghaib dari Tuhan. Dan juga sudah menjadi bagian dari takdir para messiah ini adalah isyarat Tuhan tentang diri mereka, baik tentang kemunculannya maupun kepemimpinannya.

Selain para penyelamat yang utama yaitu para Rasul, kita telah saksikan juga dalam sejarah,  munculnya orang-orang pilihan Tuhan yang bukan nabi atau rasul. Seperti Thalut yang membawa Bangsa Israel lepas dari penjajahan bangsa Romawi. Yang isyarat tentang dirinya yaitu pelantikan dirinya sebagai pemimpin bangsa Israel datang langsung dari Tuhan melalui wahyu yang diterima Nabi Samuel. Juga Sayidina Umar bin Abdul Aziz, yang memenuhi dunia. Hingga Tuhan lembagakan keberkatan pemerintahannya dengan menjadikan serigala-serigala di waktu itu yang tidak lagi memakan domba-domba. Ketika serigala kembali memangsa domba-domba, maka tahulah orang-orang yang terhujung wilayah kekuasaanya bahwa pemimpin mereka telah wafat. Isyarat tentang dirinya pun telah disebutkan puluhan tahun sebelum kelahirannya oleh leluhurnya sendiri, Sayidina Umar bin Khattab. Begitu juga dengan Sultan Muhammad Al Fateh, yang menggulung kekaisaran Romawi dengan pasukan ajaibnya ketika usianya masih 21 tahun. Peristiwa ini telah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW 600 tahun sebelumnya dan takdirya sebagai orang yang dijanjikan itutelah dinyatakan jelas oleh seorang wali besar di zaman itu, Syamsuddin Al Wali, bahkan ketika ia masih dalam buaian.

Peradaban manusia senantiasa berulang, dari kebaikan kepada kehancuran dan kembali kepada kebaikan kemudian merosot kembali kepada kehancuran. Betapapun banyaknya tokoh yang muncul memimpin manusia, baik kepada kejahatan maupun mencoba membawa manusia kepada kebaikan dan kesejahteraan, seorang penyelamat yang sesungguhnya ia datang membawa kebenaran sejati, kebenaran yang memang hanya datang dari Tuhan. Ia menjadi wakil pihak Tuhan, menyelamatkan manusia dari kekufuran dan juga penderitaan. Jika kita hidup di zaman kemunculan seorang yang Tuhan janjikan kedatangannya, maka tidak bisa tidak, mau tidak mau kita harus mencarinya dan bergantung kepadanya jika kita menginginkan kebenaran dan keselamatan dunia akhirat. Kecuali jika kita adalah orang yang dijanjikan itu, yang diri kita telah disebut-sebut oleh para nabi, yang kehidupan kita berjalan mengikuti takdir rasul-rasul dan Tuhan telah sahkan kita menjadi pemimpin kebenaran untuk manusia di muka bumi.

Zaman ini adalah zaman ketika keimanan dan akidah porak-poranda, akhlak menyapu bumi, kemanusian punah, penindasan merata di muka bumi. Inilah zaman yang memiliki ciri-ciri kemunculan seorang penyelamat. Seharusnya sudah menjadi agenda umat manusia untuk mencarinya. Terlebih lagi kita hidup di awal abad Hijriyah, sedangkan Allah telah menjanjikan kepada manusia melalui lidah Rasulullah SAW, yang sudah terbukti kebenarannya dari abad ke abad:

"Sesungguhnya Allah akan membangkitkan di awal setiap seratus tahun seorang Mujaddid yang akan memperbaharui urusan agamanya."
(HR. Abu Daud, At-Tabari, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Hajar dan Al Iraqi)

Tentu padanya ada jalan keluar untuk manusia selamat dunia Akhirat di zaman kemusnahan ini. Jalan keluar untuk mengembalikan iman, menumbuhkan cinta dan takut kepada Tuhan, menjalankan aturan Tuhan, menyelesaikan konflik dan peperangan, penjajahan ekonomi, kesenjangan sosial, ancaman kemusnahan global oleh senjata nuklir, kerusakan alam dsb. Inilah kabar gembira untuk seluruh manusia di muka bumi. Marilah kita sambut kehadirannya untuk menyelamatkan umat manusia dunia Akhirat. Dan lebih dari itu, sungguh beruntung orang-orang yang berada dalam timnya dan menjadi bagian dari perjuangan besarnya. Semoga kita adalah salah satunya.


[Agiest, from a journey to The Promised Land]

Tragedi Negeri 1001 Bencana (1): Dari Aceh hingga Jogja

June 8th, 2006 by easternearth

Tragedi Negeri 1001 Bencana (1): Dari Aceh hingga Jogja

Akhir tahun 2004, bangsa ini digemparkan oleh satu peristiwa luar biasa yang menelan korban lebih dari 230.000 nyawa. Gempa bumi yang terbesar yang pernah terukur dalam sejarah peradaban manusia dengan kekuatan 9 skala Richter mengguncang bumi Serambi Mekkah, Nangroe Atjeh Darussalam. Disusul kemudian gelombang pasang Tsunami yang menggulung ribuan nyawa. Sungguh menyedihkan memang menyaksikan kehancuran total sedemikan rupa.

Masyarakat pun tercengang-cengang melihat begitu banyaknya korban. Semua mata tertuju kepada tanah Rencong yang telah luluh lantak bergelimang ratusan ribu tubuh tak bernyawa. Dunia sesaat terhenti, tercengang, tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Maka, di tengah sibuknya bebrbagai pihak melakukan pertolongan dan evakuasi korban, sebagian orang sibuk menganalisis tentang penyebab gempa dahsyat itu, sementara yang lain sibuk merancang-rancang sistem peringatan dini (Early Warning System) untuk Tsunami.

Semua menjadi sibuk dengan ciptaan Tuhan bernama Bumi yang sekali diperintahkanNya untuk bergejolak ratusan ribu nyawa musnah. Hanya sedikit sekali yang sibuk merenungkan apa maksud Tuhan di balik kejadian. Mungkin memang hanya yang sedikit yang meyakini bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Bukan dogeng masa kecil atau mitos berumur ribuan tahun. Atau mungkin meyakini juga Tuhan itu ada tapi tidak tahu yang bagaimanakah Tuhan itu. Jadi ketika  terjadi bencana begitu bahsyat pun tidak terpikir Tuhan. Yang terpikir hanyalah sebab, sebab dan sebab. Karena ini, karena itu. Padahal tidak ada satu kejadian pun di alam ini yang terjadi melainkan atas kehendak Tuhan. Dan sebab-sebab itupun Tuhan lah yang menjadikan. Lalu, bagaimana mungkin seseorang yang mengakui adanya Tuhan tidak terpikir bahwa apapun peristiwa dialam ini atas kehendak Tuhan. Bagaimana mungkin akal logika yang sanggup melahirkan teknologi2 yang begitu canggih menjadi begitu bodohnya dengan tidak melihat kuasa Tuhan disebalik setiap kejadian alam ini. Sungguh malangnya.

Dan karena kita masih juga belum tampak peranan Tuhan, maka Tuhan terus ‘anugerahi’ negeri ini 1001 bencana yang tidak putus-putusnya. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, wabah flu burung, kerusuhan, kejahatan dan sebagainya merata di seluruh negeri ini. Dari  Sabang sampai Merauke. Tapi malang sungguh malang kita masih saja buta, masih tidak tampak Tuhan di balik 1001 benacan ini. MAsih saja berkutat dengan sebab, sebab dan sebab. Padahal dasar Negara ini yang pertama sekali adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa". Atau boleh jadi sebenarnya negeri ini memang bertuhankan yang bukan Tuhan. Jadi untuk menghentikan 1001 bencana ini, perduduk negeri ini tidak mau merujuk kepada ‘tuhan’ mereka karena ‘tuhan’ mereka bodoh, tidak tahu apa-apa, tidak ada kuasa sehingga 1001 bencana ini pun bukan ciptaannya.

Hinggalah hari ini Tuhan perintahkan kembali Bumi ini bergetar hebat hingga 6000 nyawa musnah dalam 57 detik saja. Rupanya kali ini Tuhan bertukar ’strategi’. Di saat penduduk Jogja mencurahkan perhatiannya dengan ancaman Gunung Merapi ternyata bukan gunung itu yang Tuhan jadikan sebab musnahnya ribuan nyawa. Tapi rupanya masih juga kita tuli bisu dan buta. Kini justru sibuk memikirkan bagaimana mengantisipasi agar jika terjadi gempa tidak memakan banyak korban. Apakah masih belum cukup jelas bagaiamana Tuhan bertindak kali ini? Jika kita siap dengan gunung berapi tapi kemudian Tuhan binasakan kita dengan gempa bumi, apakah kalau kita siap dengan gempa bumi Tuhan tidak akan binasakan kita dengan sebab-sebab lain? Sampai kapankah kita akan mengerti?

Kuasa Tuhan

Aqidah umat sudah terlalu rusaknya
Tiap kejadian tidak dikaitkan dengan Tuhan
"Karena" atau "sebab"lah yang merusakkan
Bukan kehendak dan kuasa Tuhan yang melakukan

Banjir berlaku, hujan lebatlah yang menjadikan
Bukan Tuhan lakukan untuk peringatan
Gunung berapi meletus memusnahkan nyawa dan harta
Belerang yang amat panas di dalamnya yang meledakkan

Bumi bergoncang gempa bumi namanya
Meruntuhkan apa saja
Ada sebab-sebab tertentu yang menggoncang
Padahal itu adalah ancaman Tuhan
kepada mereka yang membuat mungkar
Hukuman yang dilakukan di dunia lagi,
agar manusia sadar

Memanglah Tuhan telah membuat ketentuan
Apa saja kejadian baik dan buruk
Tuhan jadikan "sebab"nya dahulu
"Sebab" kan Tuhan yang menjadikan untuk berlaku

Artinya bukan "sebab" yang melakukan,
tapi Tuhan yang menjadikan "sebab" dan yang akan
melakukan
Begitulah rusaknya aqidah umat termasuk yang Islam
Mereka telah syirik dengan Tuhan karena keyakinan

Segala-galanya tidak akan terjadi kalau bukan kehendak
Tuhan
Bukan sebab-sebab yang dijadikan, yang melakukan
Betulkan aqidah, takutilah Tuhan yang menjadikan apa
saja

- Lyric of Mawaddah International Album -

[Agiest of Jogja Never ending Asia]

Dibalik Seni vs Pornografi

February 10th, 2006 by easternearth

http://easternearth.wordpress.com/2006/02/10/di-balik-seni/

Seni atau pornografi. Mengapa harus ada dua label untuk memberi nama satu perkara yang sama: Manusia tanpa busana atau hampir tanpa busana? Bukankah yang dibalik dua label itu tersirat keinginan kita untuk bisa menilai satu perkara itu benar atau salah? Dengan kata lain, seni berarti benar, pornografi berarti salah. 

Sebenarnya kita sudah salangkah lebih maju. Rupanya kita mencari kebenaran. Kalo gitu jangan buru2 adu argumentasi mana seni dan mana pornografi karena nantinya serba relatif karena masing2 punya pemikiran sendiri2. Argumentasi2 itu kan produk mesin akal pikiran kita. Sebelum kita pake mesin kita itu, sudahkah kita fahami cara kerjanya? Lalu, bisakah dengan cara kerja mesin kita itu kita mendapatkan hasil yang kita inginkan?

Kalaulah dengan akal saja kita sudah bisa menemukan kebenaran, maka Tuhan tidak perlu mengutus Nabi dan Rasul. Toh ahli filsafat yang ada selama ribuan tahun seharusnya sudah cukup untuk memikirkan kebenaran. Tapi faktanya, ada Nabi dan Rasul dalam sejarah umat manusia. Mau disangkal ga bisa. Sedangkan semua nabi dan Rasul itu semua sama, mereka bicara benar-salah. Apa artinya? Artinya itu adalah intervensi Tuhan untuk menunjukkan kebenaran kepada manusia karena denan akal saja manusia tidak bisa menemukan kebenaran. Mengapa? Sebenernya, cara kerja akal tidak lebih seperti neraca/timbangan saja, hanya menimbang dan membandingkan informasi-informasi yang ada. Artinya, validitas akal dalam menentukan baik-buruk, benar-salah, sangat bergantung pada informasi yang diterimanya. Dari mana informasi itu diperoleh? Informasi itu kita peroleh dari panca indera kita.

Jika kita kehilangan indera perasa dan penglihatan kita, bisakah kita jawab pertanyaan ini: Benarkah udara itu ada? Apa jawaban akal pikiran kita, sedangkan kita tidak bisa merasa semilirnya angin dan tidak bisa melihat benda yang bergerak tertiup angin. Dan jika kita kehilangan semua sensor dalam tubuh kita, bisakah kita menjawab menjawab pertanyaan: Benarkah matahari itu ada? Benarkah bulan itu ada? Benarkah alam semesta itu ada? Tapi jangankan untuk membenarkan keberadaaan matahari, bulan dan alam semesta, bahkan seekor lalat hinggap di batang hidung kita pun kita tidak tau..

Itulah kelemahan akal yang sangat bergantung pada informasi yang diperolehnya. Sebenarnya, jika kita mengerti cara kerja akal kita yang lemah ini maka kita akan merasakan betapa baiknya Tuhan kita yang telah menginformasikan kepada kita perkara-perkara yang panca indera kita tidak mampu ‘menangkapnya’. Ruh, malaikat, akhirat, syurga, neraka, masa depan, yang paling utama adalah ekistensi Tuhan itu sendiri termasuk bersamanya nilai2 yang diberikan Tuhan, baik dan buruk, benar dan salah, halal dan haram.

Informasi dari Tuhan inilah yang disebut wahyu yang disampaikan melalui para Nabi dan Rasul. Dengan wahyu itulah akal kita akan mampu menimbang mana benar mana salah. Wahyu yang dibawa seorang Rasul akan dilembagakan menjadi Kitab Suci. Dan karena Tuhan sudah menetapkan bahwa masyarakat dan peradaban manusia akan terus berubah, maka Tuhan juga terus meng-update wahyu-Nya. Diutuslah Rasul-rasul terbaru membawa Kitab Suci yang terbaru juga untuk menggantikan wahyu sebelumnya yang sudah tidak murni atau tidak sesuai lagi.(Kalo masih sesuai ya ngapain di-update kan?) Begitulah seterusnya sampai ke Rasul yang terakhir. Itulah cara Tuhan menunjukkan kebenaran kepada manusia dan menjaga kebenaran itu dari jaman ke jaman. Just a simple logic…:)

Jadi kembali ke permasalahan, jika kita ingin bisa menentukan mana benar mana salah salah dalam perkara manusia tanpa busana, tidak perlu kita bersembunyi di balik istilah seni dan pornografi. Kita tanya saja sama Tuhan, "Tuhan, orang ga pake baju untuk diliat orang lain itu bener ga sih? Soalnya kata temen-temen saya itu sih seni, kan kita suka tuh ngeliatnya..":)

                                                      ###

"Sesungguhnya kebenaran itu hanyalah dari Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang menolaknya." [Al Baqarah 147]

"Kalaulah akal dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang halal dan mana yang haram, mana yang benar dan mana yang salah, sudah tentu  tidak perlu lagi Allah  mengutuskan para Rasul, justeru filasuf ribuan banyaknya telah lahir ke dunia ini…"

-Shohibbuz Zaman-

[A discussion about PI Magazine controversy on elektro-mania@yahoogroups.com]

Renungan Untuk Suami Isteri

January 9th, 2006 by easternearth

http://easternearth.wordpress.com/2006/01/09/renungan-untuk-suami-isteri/


Untuk suami, renungkanlah…


Pernikahan atau perkawinan menyingkap tabir rahasia.
Isteri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah,
tidaklah setaqwa Aisyah pun tidak setabah Fatimah.
Justru isterimu hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita
menjadi solehah…

Pernikahan atau perkawinan mengajar kita kewajiban bersama
Isteri menjadi tanah kamu langit penaungnya
Isteri ladang tanaman kamu pemagarnya
Isteri kiasan ternakan kamu gembalanya
Isteri adalah murid kamu mursyidnya
Isteri bagaikan anak kecil kamu tempat bermanjanya
Saat isteri menjadi madu kamu teguklah sepuasnya
Seketika isteri menjadi racun kamulah penawar bisanya
Seandainya isteri tulang yang bengkok berhatilah meluruskannya …

Pernikahan atau perkawinan menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah SWT.
Karena memiliki isteri yang tak sehebat mana justeru membuat kamu akan tersentak dari alpha bahwa
Kamu bukanlah Rasulullah SAW
Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamallahhuwajhah
Cuma suami akhir zaman yang berusaha menjadi soleh …

Untuk isteri pula, renungkanlah…

Pernikahan atau perkawinan membuka tabir rahasia
Suami yang menikahi kamu tidaklah semulia Muhammad saw …
Tidaklah setaqwa Ibrahim pun tidak setabah Ayyub atau pun segagah Musa apalagi setampan Yusuf
Justeru suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang punya cita-cita
membangun keturunan yang soleh…

Pernikahan atau perkahwinan mengajar kita kewajiban bersama
Suami menjadi pelindung kamu penghuninya
Suami adalah nahkoda kapal kamu pengemudinya
Suami bagaikan pelakon yang nakal kamu adalah penonton kenakalannya
Saat suami menjadi raja kamu nikmati anggur singgasananya
Seketika suami menjadi bisa kamulah penawar ubatnya
Seandainya suami bengis lagi lancang sabarlah memperingatkannya..

Pernikahan ataupun perkawinan mengajarkan kita perlunya iman dan
taqwa untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah swt
Kerana memiliki suami yang tak segagah mana justru membuat kamu akan tersentak dari alpha
Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna di dalam menjaga
Dan bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara
Cuma wanita akhir zaman yang berusaha menjadi solehah…

-Abuya Syeikh Imam Ashaari Muhammad At Tamimi-

[Untuk yang berbahagia, Mastris dan Novita yang akan segera merayakan rasa kesyukuran pada 15 Januari 2005. Semoga Allah memelihara selalu, di dunia dan Akhirat. Amin.]

The Great Defender

January 4th, 2006 by easternearth

Reveal the History, The Series:

ABU HASSAN AL ASY’ARI

(Mujaddid kurun ke-3)   

"Pada seratus pertama, di adalah Umar
Khalifah adil disepakati tidak akan pudar

     Sedang Syafi’i datang pada dua ratus kedua
     Karena memiliki ilmu tiada dua

Lalu Ibnu Suraij adalah Imam ketiga
Sedang Al Asy’ari diakui oleh para pengikutnya"
(Imam Sayuti - Tuhfah Al Muhtadin bi Asma’ Al Mujaddidin)

 
Abu Hassan Al Asy’ari dilahirkan pada 260H/874M dan wafat 324H/937M. Beliau dibesarkan di suatu jaman ketika dunia Islam telah terbuka sehingga banyak negara di luar Jazirah Arab telah menganut Islam, seperti Afrika, sebagian Cina, Romawi Timur, Persia, India dan lain-lainnya. Timbullah pergaulan yang luas di antara bangsa Arab dengan bangsa Ajam (non-Arab) yang telah sama-sama menganut Islam. Setiap bangsa dan kaum itu memiliki kebudayaan, istiadat dan pegangan yang tersendiri. Bersama-sama dengan luasnya kawasan pengaruh Islam serta ramai penganut-penganutnya, maka berkembang pesatlah ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang. Termasuk juga filsafat Yunani mulai mengalir ke dunia Islam. Buku-buku filsafat mereka diterjemahkan ke bahasa Arab, kemudian dikaji, diselidiki dan diproses kembali dan disusun semula oleh para ulama Islam. Hingga menjadi hak kepunyaan (milik) Islam. Artinya di jaman beliau ilmu filsafat sudah begitu berkembang dan mendapat tempat di tengah masyarakat Islam. Akhirnya sedikit banyak filsafat Yunani juga memberi kesan pada pemikiran ulama Islam waktu itu.

Hal ini terutama terjadi di kalangan aliran Mu’tazilah atau golongan lkhwanussofa (gerakan bawah tanah - ahli filsafat). Maka timbullah pemikiran yang keluar dari batas Al Quran dan As Sunnah. Di antara penyelewengan itu adalah:

1. Mengatakan alam ini qadim sama dengan qadimnya Allah
2. Allah mengetahui tentang makhluk adalah secara ijmali (rangkuman) bukan secara tafsili (detail)
3. Allah mengetahui setelah wujud sesuatu, sebelum wujud Allah tidak tahu
4. Makhluk ada kuasa yang memberi bekas (pemahaman Qadariah)
4. Makhluk tidak ada usaha dan ikhtiar (pemahaman Jabariah)
5. Nikmat Syurga itu nikmat ruhani sahaja bukan nikmat ruhani dan jasmani
6. Allah tidak bersifat, Dia hanya zat semata-mata
7. Baik dan buruk bisa ditentukan oleh akal bukan wahyu sebab itu manusia tetap diazab walaupun di jaman itu tiada Rasul (jaman Ahlul Fitrah)
8. Orang yang membuat dosa besar tidak bisa dikatakan mukmin, tidak bisa juga dikatakan kafir. Maka di akhirat kelak mereka tidak ke syurga dan tidak ke neraka. Tempatnya ialah di antara keduanya. .Tempat itu terkenal di kalangan mereka sebagai "Manzilan bainal man zilatain" artinya tempat di antara dua tempat.

Seterusnya mereka menganggap Allah itu bertangan, bermuka dan bermata tanpa ta’wil, hanya mengikut lahir ayat Al quran. lnilah pemahaman Mujassamah atau Musyabihah dan pemahaman lain yang bisa merusakkan aqidah.

Pada awalnya Abu Hassan Asy’ari terpengaruh dengan pemahaman Mu’tazilah. Bahkan sebagian gurunya adalah ulama-ulama Muktazilah. Setelah cukup berilmu, maka beliau membuat kajian lagi. Tapi tiba-tiba dengan takdir Allah S.W.T (barangkali karena Allah mau selamatkan umat Islam dan agama-Nya), Abu Hassan Asy’ari mendapat hidayah dan taufik, maka beliau tersadar. Ajaran Muktazilah yang terlalu menggunakan akal adalah salah dan menyeleweng dari ajaran Al Quran dan As Sunnah. Sejak itu dia pun kembali berpegang dengan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Beliau pun mulalah menyerang Muktazilah (atau filsafat) dan mempertahankan pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah. Untuk menyelamatkan aqidah umat beliau pun menyusun satu sistem ajaran usuluddin (pokok-pokok agama atau tauhid) yang berdasarkan kaidah/metode Mantiq (logika- filsafat)

Terkenal dengan ilmu Sifat 20*, setiap sifat Tuhan selain didasarkan kepada dalil naqli (sumber Quran dan Hadis) juga dikuatkan dengan dalil aqli (logika). kaidah Usuludin yang dicipta oleh Abu Hassan inilah kemudian diterima oleh ulama-ulama Ahli Sunnah hingga hari ini. Terutama di kalangan penganut mazhab Imam Syafi’i, sehingga kaidah ini dijadikan mata pelajaran di sekolah-sekolah. Kecuali akhir-akhir ini ada pihak yang menolaknya dan mengatakan cara ini bid’ah. Namun para ahli Sunnah Wal Jamaah tetap menerima kaidah usuluddin oleh Abu Hassan Asy’ari. Yakni mempelajari sifat-sifat Tuhan yang wajib dan yang mustahil dan yang mubah dengan hujjah menggunakan dalil-dalil aqli dan naqli, tidak gunakan dalil akal saja dan tidak gunakan dalil naqli saja.

Hingga terkenallah ke seluruh dunia Islam bahwa pegangan tauhid ahli-ahli Sunnah Wal Jamaah adalah berdasarkan pada Mazhab Abu Hassan Asy’ari. Begitulah besarnya jasa lmam ini. Dia memulihkan aqidah umat yang hampir-hampir rusak oleh pengaruh filsafat. Kelahirannya benar-benar menjadi benteng Islam, menyelamatkan umat serta menghidupkan kembali Islam yang sebenarnya.

*) Sifat 20 [blogger's note]

Wujud (ada), Qidam (sediakala tanpa didahului dengan ketiadaan), Baqa’ (kekal), Mukhalafatuhu lil Hawadits (tidak serupa dengan segala yang baru yaitu ciptaan-Nya), Qiyamuhu Binafsihi (’berdiri’ sendiri), Wahdaniyah (esa), Qudrat (berkuasa), Iradat (berkehendak), Sama’ (melihat), Basyar (mendengar), Ilmu, (mengetahui), Hayat (hidup), Kalam (berkata-kata), Kaunuhu Qadiran (tetap selalu dalam keadaan berkuasa), Kaunuhu Muridan (tetap selalu dalam keadaan berkehendak), Kaunuhu ‘Aliman (tetap selalu dalam keadaan mengetahui), Kaunuhu Hayyan (tetap selalu dalam keadaan hidup), Kaunuhu Sami’an (tetap selalu dalam keadaan mendengar), Kaunuhu Basyiran (tetap selalu dalam keadaan melihat), Kaunuhu Mutakalliman (tetap selalu dalam keadaan berkata-kata)

Secara pembahasan akal (dalil aqli), metode Sifat 20 adalah suatu pendekatan nalar untuk memahami Tuhan dan kerja-kerjaNya. Dengan mengambil ‘hanya’ 20 sifat dari keseluruhan kesempurnaan sifat-sifat Tuhan yang tidak terbatas, dalil-dalil akal dari sifat-sifat tersebut adalah suatu alur logika yang merupakan sebuah maze yang cantik untuk mematahkan pemikiran-pemikiran yang menentang eksistensi Tuhan dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Juga sangat tegas dalam menolak presepsi yang salah tentang Tuhan.

Walaupun secara sekilas 20 sifat ini terkesan sederhana namun jika dikaji lebih dalam secara maknanya, keterkaitannya satu sifat dengan sifat yang lain, dan konsekuensi dari sifat-sifat tersebut terhadap makhluk, maka akan muncul sebuah ilmu yang sangat tajam dan terarah namun cukup berat penalarannya

Pada akhirnya, metode ini akan mengantarkan seseorang kepada pengetahuan yang tepat tentang Tuhan dengan sifat-sifat dan kerja-kerja-Nya sekaligus mengantarkan kepada ketidaktahuan tentang bagaimana sebenarnya zat Tuhan yang memang tidak akan bisa dibayangkan oleh manusia dan seluruh makhluk lainnya.

"Maka apa saja yang terlintas di hati kamu, maka Allah menyalahi yang demikian…" [Al Hadits]

[Taken from "Siapa Mujaddid Kurun ke-15", by Syeikh Imam Ashaari Ibn Muhammad At Tamimi]

The Founding Father

December 16th, 2005 by easternearth

Reveal the History, The Series:

IMAM SYAFI’I RAHIMAULLAHUTAALA
(Mujaddid kurun ke-2)

“Dalam Sunnah disebutkan bahwa ALLAH akan mempersiapkan pada setiap awal seratus tahun seseorang yang akan mengajarkan Sunnah kepada manusia, kemudian orang itu akan menghapuskan segala kebohongan yang dibuat-buat atas Nabi Muhammad SAW, kemudian kami menyaksikan kebenaran hadits ini, di mana pada awal seratus tahun pertama dia adalah Umar bin Abdul Aziz, sedangkan pada seratus tahun kedua adalah Asy Syafi’i.”
(Imam Ahmad bin Hambal, riwayat Al Baihaqi)

la adalah mujaddid yang kedua, dilahirkan di Ghazzah (Syria) pada tahun 150 Hijriah. Wafat 204 Hijriah. Di zaman ini susunan perundangan Islam (ilmu fiqih) sedang mendapat tempat dan sedang menuju hampir ke zaman kematangannya, walaupun kitab -kitab mengenainya belum begitu banyak. Terdapat dua aliran fahaman tentang ilmu fiqih:

  1. Aliran fiqih: yang kuat bersandar pada ar-rakyu (fikiran). Berpusat di Iraq, dipelopori oleh lmam Abu Hanafiah yang lahir pada (80H/660M). Ajaran beliau disambungkan oleh sahabat-sahabat pengikutnya. Aliran ini banyak bersandar pada ar-rakyu sebab Iraq letaknya jauh dari tempat lahir Rasulullah S.A.W jadi kurang atau jauh dari ahli hadits. Tambahan lmam Hanafi kurang mengembara (tinggal di Baghdad dan wafat pun di Baghdad). Jadi bila tidak ada hadits mereka sangat bersandar pada ar-rakyu (fikiran). Aliran ini didasarkan pada apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah dalam sabdanya ketika menghantar Sayidina Mu’az menjadi guru di Yaman. Artinya:
        
         Dari beberapa orang daripada kawan Mu’az dari Rasulullah s.a.w. dikala beliau mengutus Mu’az ke negeri Yaman, maka beliau bersabda: "Bagaimana engkau menghukum?" la berkata: "Aku akan menghukumi dengan apa yang di dalam Kitab Allah". Beliau bersabda: "Maka jika tidak ada di dalam Kitab Allah?" la berkata: "Maka dengan sunnah Rasulullah s.a.w." Beliau bersabda pula: " Maka jika tidak ada di dalam sunnah Rasulullah s.a. w. " la berkata: "Aku akan berijtihad dengan fikiranku". Rasulullah s.a.w. bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada pesuruh Rasulullah " (Riwayat At-Tarmizi)
        
         Sebab lain kenapa mereka sangat bersandar pada ar rakyu ialah karena terlalu berhati-hati menerima hadits. Walaupun ada hadis yang sampai tapi karena membimbangkan kesahihannya takut berbohong dengan Rasulullah maka ditolaknya dan digunakan ar-rakyu.
  2. Aliran ahlul hadis: Berpusat di Madinah. Pelopornya ialah lmam Malik bin Anas. Berlakunya ini oleh karena di Madinah banyak orang yang menghafal hadis Rasulullah S.A.W. Jadi lmam Malik aliran fiqihnya sangat terpengaruh dengan hadis, kurang menggunakan ar-rakyu (fikiran), bahkan terlalu takut hendak menggunakan ar-rakyu walaupun ketika tidak ada hadits yang sampai padanya. Alasan golongan ini ialah takut membuat-buat hukum. Jadi mereka terima saja hadits, sekalipun beturn jelas kesahihannya. Tambahan pula lmam Malik kurang mau mengembara. Jadi kuranglah pengalamannya.

lmam Syafi’i R.T lahir dan dewasa hinggalah wafat di antara dua aliran fiqih inilah. Allah takdirkan dia lahir sebagai yatim, miskin pula. lbunya seorang yang sholehah. Maka dia banyak berpindah-pindah antara satu negeri dengan satu negeri. Pernah duduk di Mekah dan belajar dengan ulama di sana, di antara gurunya yang terkenal di Mekah ialah Muslim Khalid Az-Zinji. Pernah lama tinggal di Madinah dan belajar ilmu fiqih dengan lmam Malik bahkan kitab Hadits Muwatta’ susunan lmam Malik dapat dihafal oleh lmam Syafi’i waktu muda.

Pernah mengembara ke Iraq (Baghdad) dapat pula bertukar fikiran dan muzakarah tentang ilmu dengan ulama di sana, terutama ulama yang jadi pengikut lmam Hanafi, ahlul rakyi. Pernah berhijrah ke Mesir dapat pula bergaul serta bermuzakarah ilmu pengetahuan dengan ulama-ulama di Mesir bahkan Mesir merupakan tempat tinggalnya yang akhir dan maqamnya ada di Kairo. Selain daripada banyak berhijrah serta bergaul dengan macam macam golongan ulama di waktu kecilnya hinggalah waktu mudanya pernah pula tinggal dengan puak Arab, Kabilah Huzil selama 16 tahun. Kabilah ini ialah satu golongan Arab yang terkenal fasih dan mahir di bidang sastra. Sastra Arab mereka itu jadi sebutan dan tiruan karena baiknya. Imam Syafi’i dapat mengkaji secara mendalam sastra mereka dan dapat menghafal syair mereka, hingga jadi pakar sastera dan syair.

Perlu diingat lmam Syafi’i juga telah hafal Quran waktu umur 9 tahun dan banyak juga hafal hadis. Gurunya lebih kurang 1000 orang. Dengan kebolehan-kebolehan menghafal Quran, hafal hadits, faham pula kedua-dua bentuk aliran fiqih yang ujud di waktu itu, banyak ilmunya, luas pengalamannya karena banyak mengembara, mahir di bidang bahasa dan sastera. Ditambah dengan sikap hidup yang zuhud, maka lmam Syafi’i bangun sebagai penyelamat umat di zaman-nya.

Segala kebolehan dan ilmunya diproses menjadi satu bentuk ilmu fiqih yang berada di tengah-tengah antara dua aliran tadi. Artinya lmam Syafi’i menghasilkan aliran fiqih yang ketiga. Aliran (mazhab) yang menjadi jalan tengah antara kedua aliran yang sebelumnya. Yakni menggunakan ar-rakyu tapi tidak keterlaluan (hingga mudah mudah menolak hadits) di samping tidak terlalu berani menerima hadis selagi tidak diperiksa dengan teliti.

Dengan kata yang lain, lmam Syafi’i menerima hadis dengan teliti dan mampu berijtihad dengan  ar-rakyu setelah tidak ada Quran dan Hadits, Itulah mazhab (alirannya). Mazhab tidak terlalu ke kanan tidak terlalu ke kiri; tidak sebebas-bebas menggunakan akal dan tidak sebebas-bebasnya menggunakan hadits. Dalam aliran (mazhab) yang dipeloporinya ini lmam Syafi’i memperkenalkan dua kaedah yang tidak ada sebelumnya. yaitu kaedah Usul Fiqih dan Qawa’idul Fiqih. Kedua dua kaedah ini dituliskan dalam kitab-kitabnya, di antaranya yang terkenal ialah Ar-Risalah. Tujuan kaedah ini ialah untuk menunjukkan cara untuk istinbat atau mengeluarkan hukum serta cara untuk menetapkan hukum ke atas isu-isu yang belum terjadi sebelumnya.

Kaedah beliau ini telah diterima dan dipakai oleh mujtahid-mujtahid yang datang kemudian. Dengan kaedah-kaedah ini terselamatlah para mujtahid dari tersalah, sebab kaedah itu memberi timbangan atau garis panduan dalam menentukan atau mengeluarkan hukum. ltulah jasa besar lmam Syafi’i, kedatangannya untuk zamannya adalah benar sebagai penyelamat dan penghidup agama (mujaddid). Selain daripada mematangkan dan mengemaskan lagi perundangan Islam, ia membawa kesederhanaan antara aliran ahlul hadis dan ahlul rakyi.

[Taken from "Siapa Mujaddid Kurun ke-15", by Syeikh Imam Ashaari Ibn Muhammad At Tamimi]

Utopia Tombo Ati

December 5th, 2005 by easternearth

"Tombo ati iku ana lima perkarane
  Kaping pisan moco Quran sak maknane ….."

Sebuah senandung yang sudah akrab di telinga kita. Sebuah senandung klasik yang saat ini dipopulerkan oleh Opick. Sebelumnya, dibawakan oleh Emha Ainun Nadjib dengan iringan gamelan Kyai Kanjeng. Tidak banyak yang menetahui bahwa syair ini digubah oleh Sunan Bonang (1465-1525). Salah satu Wali Songo yang banyak berdakwah melaui kebudayaan. Seorang guru yang telah menginsyafkan dan mendidik seorang ‘perampok budiman’ bergelar Brandal Lokajaya yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Kalijaga, anggota Wali Songo yang paling banyak disebut-sebut dalam sejarah kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa.

"Tombo Ati" atau "Obat Hati", sebuah syair sederhana tetapi sungguh berat maknanya. Bahkan hampir menjadi sebuah utopia untuk bisa mewujudkannya dalam kehidupan kita di jaman ini. Bahkan disebutkan di penghujung syair, "Salah sawijine sopo bisa ngelakoni, InsyaAllah Gusti Pangeran ngijabahi.." Cukup amalkan salah satunya, InsyaAllah Tuhan akan mengijabah. Mengapa utopia? Mari kita perhatikan apa sajakah lima perkara yang menjadi obat hati itu.

1. Moco Quran sak maknane (membaca Al Quran dengan maknanya)

Membaca Quran tentu tidakcukupdengan melafadzkannya. Jika sekedar melafadzkannya saja, maka kita tidak akan dapat maknanya. Salah-salah Al Quran justru mengutuki kita ketika kita membaca ayat yang menceritakan tentang penghuni neraka sebagai ancaman tapi kita tidak merasa ancman itu untuk kita, merasa diri aman. Padahal kita tidak pernah tahu bagaiamana kesudahan hidup kita nanti.

Ilmu Al Quran ini sebenarnya khazanah ilmu. Ilmunya berlapis lapis. Dari ilmu tentang Al Quran itu sendiri, kemudian ilmu tentang pembagian ayat-ayat dan sejarah diturunkannya, lalu tentang perintah dan larangan Allah, ilmu-ilmu mengenai sejarah umat yang lalu, khabar masa depan, sampai ke perkara yang ghaib seperti malaikat,jin,surga neraka,dan tentu saja tentang Allah itu sendiri. Dari ilmu-ilmu seperti fisika, biologi, sejarah, geografi, politik, ekonomi sampai ke formulasi-formulasi khusus untuk menyelesaikan permasalahan umat di suatu jaman.

Belum lagi ilmu-ilmu implisit seperti hukum-hukum yang hanya bisa tergali oleh seorang mujtahid. Seorang mujtahid adalah seseorang yang memenuhi kriteria untuk dapat dengan sah menarik hukum langsung dari Al Quran dan Hadits. Imam Suyuti menyaratkan 15 kriteria, di antaranya adalah menguasai 80 cabang ilmu Al Quran seperi Nasikh-Mansukh (dalil penghapus-dalil terhapus), ‘Aam Khas(umum-khusus) dsb, 100 cabang ilmu Sunnah, Ushul Fiqh (metodologi perumusan hukum), bahasa Arab, Nahu dan Sharaf (tata bahasa), Ma’ni (makna huruf), serta Ijma dan Khilaf (kesepakatan dan perbedaan rumusan hukum yang telah ada). Begitu sulitnya memenuhi kriteria ini sehingga sepanjang sejarah Islam hanya ada 11 mujtahid mutlak yang kemudian diakui sebagai imam mahzab.

Begitu juga juga ilmu-ilmu implisit yang jika diekplisitkan menjadi seperti ilmu yang dimiliki oleh seorang wali Allah bernama Asif Barkhaya di jaman Nabi Sulaiman. Dengan izin ALlah, beliau mampu mengungguli kemampuan bangsa jin dalam memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Yaman ke tempat Nabi Sulaiman di Palestina yang jaraknya hampir 5000 km.

"Berkatalah seseorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu sebelum matamu berkedip" [An Naml: 27]

Ternyata membaca makna Al Quran bukan perkara yang mudah. Tidak sembarang orang mampu menggali mutiara-mutiara Al Quran yang berharga. Mutiara adalah sesuatu yang tersembunyi yang tidak mudah diperoleh. Oleh karena itu, jika kita ingin mencari solusi paling tepat bagi permasalahan umat di suatu jaman, setidaknya kita harus mencari ulama bertaraf mujaddid di jaman itu yang benar-benar bisa dengan tepat moco Quran sak maknane.

2. Sholat wengi lakonono (sholat malam dirikanlah)

Sholat adalah suatu ibadah yang sangat berat. Berat untuk melaksanakannya, berat ketika melaksanakannya, berat dalam memenuhi tuntutannya. Ketika kita sedang sibuk dengan dunia, mudahkah kita meninggalkannya untuk mendirikan sholat di atas waktunya? Begitu juga dengan sholat malam yang sunnat saja hukumnya. Tentu bukan perkara yang mudah untuk menjalankannya,apalagi untuk bisa konsisten/ istiqamah.

Sholat juga berat dalam pelaksanaanya. Berakhlak dengan Allah ketika menghadap-Nya? Sedangkan menghadap raja saja sesorang akan begitu bersungguh-sungguh, berakhlak, penuh hormat, disertai rasa harap dan cemas. Menghadap Raja Segala raja, tentunya lebih-lebih lagi. Ketika bertakbir, terasakah Tuhan adalah segala-galanya? Ketika tubuh kita ruku, apakah hati kita ikut ruku? Ketika tubuh kita sujud, apakah hati kita ikut sujud? Merendahkan diri serendah-rendahnya, menghina diri di hadapan-Nya, merasa diri lemah dan kerdil selayaknya seorang hamba, membuang semua mazmumah (sifat jahat) dan kesombongan?

Karena itulah dari sholat yang dihayati dan tepat lahir batinnya akan muncul sebuah pribadi agung. Pribadi yang subur dengan mahmudah (sifat terpuji), ikhlas, tawadhu’, merendah diri, berakhlak dan berkasih sayang sesama manusia. Itulah beratnya tuntutan sholat. Karena itulah dikatakan sholat yang benar mampu mencegah manusia dari berbuat kejahatan.

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain).
[Al Ankabut: 45]

Jika sholat kita belum mengubah perangai kita, belum mencegah kita dari melakukan kejahatan, korupsi, penipuan, menyakiti sesama, tentu sholat-sholat kita belum menjadi tombo ati.

3. Wong kang sholeh kumpulono (berkumpullah dengan orang sholeh)

Siapakah yang dikatakan orang sholeh? Predikat sholeh ternyata tidak bisa dinilai dari lahiriyah semata. Terlihat lebih taat bukan ukuran untuk menilai kesholehan seseorang. Untuk dapat memahami predikat sholeh ini kita perlu mengetahui peringkat-peringkat iman dan peringkat-peringkat nafsu.

Di dalam Islam dikenal ada lima peringkat iman,yaitu:

a.Iman Taqlid. yaitu sekedar mengakui keberadaan Tuhan tetapi tidak memiliki dasar ilmu atau argumentasi. Mungkin ikut kata orang tua, mereka katakan ada Tuhan, ya Tuhan adalah kalau begitu. Jika ditanyakan apa buktinya Tuhan itu ada, tidak bisa menjawab.

b. Iman Ilmu. Di peringkat ini iman seseorang baru dapat dikatakan sah. Iman yang dimiliki sudah berdasrkan pada ilmu. Salah satu kaedah/ metode untuk mengesahkan iman adalah dengan Kaedah Sifat 20. Sebuah formulasi untuk membantu kita mengenal Allah yang disusun oleh Abu Hassan Al Asy’ari, mujaddid di abad ke-4 Hijriyah. Dengan demikian orang yang mengerti tentang 20 sifat wajib bagi Allah (beserta 20 sifat mustahil dan 1 sifat mubah) dapat dikatakan tahu tentang Allah.

c. Iman Ayan. Sekedar tahu tentang Allah saja belum mampu menjaga seseorang dari bebuat dosa dan kejahatan karena ilmu itu masih berada di akal. Belum jatuh ke hati. Tahu Tuhan berbeda dengan kenal Tuhan. Seseorang yang kenal Tuhan sudah hidupdalam hatinya rasa cinta dan takut Tuhan. Senantiasa merasa dalam penglihatan, pendengaran dan pengetahuan-Nya. Terasa peranan dan kerja-kerja Tuhan. Jiwanya hidup denga rasa ber-Tuhan dan rasa kehambaan. Iman di akal telah dihayati oleh hati.  Di peringkat inilah, seseorang akan terpelihara dari berbuat dosa dan kesalahan.

Sesungguhnya orang beriman melihat dosa seperti ia berada di lereng gunung dan takut kalau-kalau gunung itu menimpanya. [H.R Bukhari]

d. Iman Haq. Inilah peringkat iman para Auliya (wali Allah). Perkara dunia ini tidak lagi menipu mereka dan tidak menghalangi ‘penglihatan’ mereka kepada Tuhan. Mereka selalu merasakan peranan dan kerja Tuhan dalam setiap perkara. Dunia ibarat najis bagi mereka, walaupun dunia berada tangan mereka. Bahkan mereka menghidari perkara yang mubah karena hanya akan memperlama perhitungan/ hisab di akhirat. Para sahabat Rasulullah umumnya berada di peringkat ini.

e. Iman Hakikat. Peringkat iman tertinggi, peringat para Nabi, Rasul dan wali-wali besar termasuk diantaranya Khulafaur Rasyidin. Mereka senantiasa tenggelam dalam kerinduan dan cinta kepada Allah setiap saat. Mereka inilah golongan super-scale di akhirat, yang dijanjikan Syurga tanpa hisab.

Sedangkan tujuh peringkat nafsu:

a. Nafsu Ammarah. Keadaan nafsu seseorang yang senantiasa mengajak berbuat kejahatan. Bahkan bangga dengan kejahatan itu. Misalkan setelah memukul orang, diceritakannya pula dengan bangga kepada orang lain. Jika berhasil menipu orang, terasa hebat dan bangga dengan perbuatan itu. Jika mendapat perlakuan jahat, maka hal itu akan menjadi pembenaran untuk menyakiti orang lain atau diri sendiri. 

"Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan" [Yusuf: 25]

b. Nafsu Lawammah. Nafsu yang ketika berbuat dosa atau kejahatan maka akan terasa berdosa dan sedih. Meskipun begitu masih akan dilakukannya lagi perbuatan itu karena lemah bermujahadah (berjuang) melawan nafsu.

c. Nafsu Mulhamah. Di peringkat ini nafsu seseorang sudah tunduk kepada apa yang dikehendaki Tuhan. Hanya saja jika keadaan lingkungan berubah, masih bisa terpengaruh. Jika terbuat dosa, akan hilang kebahagiaan. Ia akan sangat menyesal dan segera bertaubat.

d. Nafsu Mutmainnah. Nafsu mutmainnah adalah nafsu yang tenang. Tidak lagi terpengaruh oleh kesenangan atau kesedihan, pujian maupun hinaan. Inilah nafsu wali-wali kecil.

"Hai jiwa yang tenang (mutmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya" [Al Fajr 27-28]

e. Nafsu Radhiah. Nafsu yang telah ridho dengan segala ketentuan Tuhan.

f. Nafsu Mardhiah. Nafsu yang Tuhan pun redho dengannya. Jika ia menghendaki sesuatu maka Allah akan mewujudkannya.

g. Nafsu Kamillah.
Peringkat nafsu para Rasul dan Nabi. Nafsu mereka senantiasa terpimpin oleh wahyu.

Dengan mengacu pada peringkat-peringkat iman dan nafsu di atas, sebenarnya yang dimaksud dengan predikat sholeh adalah mereka yang setidaknya memiliki peringkat iman Ayan dan nafsu Mulhammah. Lebih tinggi dari peringkat itu tentu lebih dari sekedar sholeh, mereka adalah orang-orang bertaqwa yaitu para Muqarabin (orang dekat/karib dengan Allah) dan para Shadiqqin (orang yang sangat membenarkan). Lalu pertanyaan selanjutnya, saat ini di manakah kita bisa jumpai orang-orang seperti ini?

4. Weteng iro ingkang luwe (perut yang berlapar-lapar/perbanyaklah berpuasa)

Berpuasa tentu bukan sekedar berlapar-lapar. Puasa yang berkesan kepada akhlak, tentu tidak hanya lahiriahnya saja yang berpuasa. Tetapi juga penglihatan, pendengaran, perilakunya ikut terkawal. Disertai ruh ibadah berupa rasa ber-Tuhan dan rasa kehambaan yang tajam. Ibadah tanpa ruh akan menjadi ibadah ‘bangkai’. Bangkai, kita pun tidak mau menyentuhnya. Ibadah ‘bangkai’, akankah Tuhan menerimanya? Karena itulah Rasulullah mengingatkan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.

5. Dzikir wengi ingkang suwe (dzikir malam perpanjanglah)

Dzikir sulit istiqamah kalau tidak dalam disiplin tertentu. Dzikir yang didisiplinkan ini disebut wirid. Wirid ini bermanfaat dalam tumbuhnya kekuatan ruhani. Oleh karena itu, dalam sebuah perjuangan biasanya ada wirid-wirid yang diamalkan. Rangkaian wirid sebaiknya terhubung Rasulullah. Artinya, wirid tersebut disusun oleh Rasulullah dan diberakan kepada seseorang untuk kemudian diberikan kepada orang lain lagi dengan silsilah yang jelas. Wirid yang terhubung dengan Rasulullah inilah yang menjadi asas sebuah tarekat. Ahli tarekat pula yang lazim mengamalkan dzikir wingi ingkang suwe.

Tapi di tengah zaman yang super sibuk ini tidak sempat lagi jika kita berwirid seperti misalnya wirid jaman Iman Ghazali. Tuntutan jaman ini sudah berbeda dengan jaman-jaman sebelumnya. Kita dituntut berjuang di tengah-tengah masyarakat global untuk memperbaiki semua aspek dalam masyarakat. Oleh karena itu, sebagaimana lazimnya muncul sebuah wirid dan tarekat di suatu jaman sebagai motor ruhani bagi perjuangan di jaman tersebut, maka sudah seharusnya ada satu rangkaian wirid yang sesuai dengan tuntutan dunia hi-tech yang super sibuk ini. Sebagai sebuah dzikir yang akan mengobati hati dan menjadi kekuatan ruhani bagi perjuangan Islam di akhir jaman.
                                                       

Jika kita pahami, ternyata mengobati penyakit hati masyarakat akhir zaman adalah sesuatu hal yang sangat sulit karena setiap permasalahan berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, baik buruknya akhlak seseorang ditentukan oleh hatinya. Hati adalah raja dalam diri. Sedangkan hati ini ditempa oleh makanan. Makanan yang haram akan mengotori hati. Hati yang kotor sulit menerima kebenaran. Artinya, jika kita ingin memperbaiki akhlak kita tentulah kita harus menjaga apa yang kita makan. Begitu juga jika kita ingin memperbaiki masyarakat. Di jaman ini adakah jaminan bahwa makanan yang kita makan kita bebas dari unsur-unsur yang haram? Baik secara zatnya maupun secara maknawi. Misalnya, adakah yang bisa memastikan bahwa uang yang kita pergunakan untuk memperolehnya bebas dari unsur riba? Tentu sulit untuk memastikannya.

Bahkan tanpa kita sadari uang kertas yang kita miliki pun adalah sebuah simbol riba yang sitematis. Karena nilai nominalnya yang berbeda dengan nilai intrinsik (nilai bahan) maka daya tukarnya sangat bergantung kepada pihak yang menerbitkannya. Dalam hal ini adalah pemerintah. Jika terjadi inflasi maupun deflasi maka terjadi perubahan daya tukar uang terhadap barang. Ada selisih antara usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu nilai nominal uang sebelum inflasi/deflasi dengan hasil tukar uang tersebut setelahnya. Riba? Wajarlah jika masyarakat kita sulit keluar dari kerusakan akhak dan moral.

Oleh karena itu, untuk bisa mengobati hati masyarakat perlu adanya sebuah solusi yang menyeluruh di semua bidang kehidupan. Dari sistem ekonomi, pendidikan, kebudayaan, politik, dst. Yang mampu menghadirkan satu sistem yang benar di antara sistem yang telah rusak dan menjadi sumber permasalahan. Mungkin hanya orang-orang khusus yang dipilih Allah saja yang mampu menghadirkan formulasi yang tepat untuk penyelesaikan seluruh permasalahan di jaman ini. Jika tidak maka maka "Tombo Ati" memang hanya tinggal syair legendaris berusia setengah millenium.

[Inspired by M.S. Adhy]

Tuhan di Bawah Telapak Kaki

December 1st, 2005 by easternearth

Sebuah kisah tentang Syeikh Abdul Qadir AL Jailani. Suatu ketika beliau didatangi oleh pemuka-pemuka kota Baghdad yang mengundangnya ke sebuah majelis ibadah malam bersama-sama. Beliau menolak tetapi pemuka-pemuka tersebut berkeras juga mengajak beliau hadir. Untuk mendapatkan keberkahan, kata mereka. Akhirnya, dengan berat hati, Syeikh Abdul Qadir setuju untuk hadir.

Pada malam dimaksudkan, di satu tempat yang terbuka, beratus-ratus orang hadir dengan melakukan ibadah masing¬masing. Ada yang sholat. Ada yang berwirid. Ada yang membaca Quran. Ada yang berdiskusi. Ada yang bertafakur dan sebagainya. Syeikh Abdul Qadir duduk di suatu sudut dan hanya memerhatikan gelagat orang-orang yang beribadah itu.

Di pertengahan malam, pihak penyelenggara mempersilakan Syeikh Abdul Qadir untuk menympaikan nasehat. Beliau coba mengelak tetapi didesak berkali-kali oleh pihak penyelenggara. Untuk mendapatkan keberkahan, kata mereka lagi. Akhirnya dengan hati yang sungguh berat, Syeikh Abdul Qadir menyanggupi.

Nasehat Syeikh Abdul Qadir ternyata ringkas dan pendek saja. Beliau berkata, "Tuan-tuan dan para hadirin sekalian. Tuhan Tuan¬tuan semua berada dibawah telapak kaki saya."

Dengan itu, majelis menjadi gempar dan riuh¬rendah. Para hadirin terasa terhina dan tidak puas hati. Bagaimana mungkin seorang Syeikh yang begitu dihormati dan terkenal dengan ilmu dan sifat wara’ bisa berkata begitu terhadap Tuhan mereka. Ini sudah menghina Tuhan. Mereka tidak sanggup Tuhan mereka dihina sampai begitu rupa. Mereka sepakat untuk melaporkan perkara itu kepada pemerintah.

Ketika pejabat pemerintahan yang berwenang  mendapat laporan, diperintahkannya seorang hakim untuk mengadili Syeikh Abdul Qadir dan jika dia terbukti bersalah, maka akan dihukum pancung.

Pada hari pengadilan yang diadakan di tengah masyarakat umum, Syeikh Abdul Qadir dihadirkan untuk menjawab tuduhan. Hakim bertanya, "Benarkah pada di tempat tersebut, pada tanggal sekian, Tuan Syeikh berkata di depan umum bahawa tuhan mereka ada di bawah telapak kaki Tuan Syeikh?"

Dengan tenang Syeikh Abdul Qadir menjawab, "Benar, saya memang berkata begitu."

Hakin kemudian bertanya lagi, "Apakah sebab Tuan Syeikh berkata begitu?" Jawab Syeikh Abdul Qadir, "Kalau Tuan Hakim mahu tahu, silakan lihat telapak kaki saya."

Maka hakim pun memerintahkan pegawainya mengangkat kaki Syeikh Abdul Qadir untuk dilihat telapak kakinya. Ternyata ada uang satu dinar yang melekat di telapak kakinya.

Tuan Hakim mengetahui Syeikh Abdul Qadir seorang yang kasyaf (bisa melihat hati seseorang). Fahamlah dia bahawa Syeikh Abdul Qadir bermaksud mengajar bahwa semua orang yang beribadah pada malam itu sebenarnya tidak beribadah kerana Tuhan. Tuhan tidak ada dalam ibadah mereka. Hakikatnya, mereka tetap bertuhankan dunia yang disimbolkan dengan uang satu dinar itu.

Jika di jaman beliau manusia beribadah sudah bukan karena Tuhan, melainkan karena cinta dunia atau karena fadhilat, apalagi di jaman ini. Manusia berbadah tidak lagi karena mengharapkan keredhoannya, tetapi karena menginginkan harta, mengharapkan jabatan, karena ingin murah rezeki, karena ingin pujian, jaga image, strategi bisnis, dsb. Sedangkan beribadah karena menginginkan syurga dan takut neraka saja sudah dikatakan mencacatkan keikhlasan apalagi beribadah karena cinta dunia.

Jika dalam ibadah yang asas saja saja manusia sudah kehilangan Tuhan apalagi dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin Tuhan hanya tinggal mitos semata. Keberadaan Tuhan mungkin masih dipercayai. Tapi sifat-sifat-Nya sudah tidak dikenali, perananan-Nya juga tidak dirasakan lagi. Tidak terasa bahwa Dia Maha Melihat, Maha mendengar, Maha Pemurah dan Penyayang, Maha Pemberi Rizki, Maha Kuasa dan Maha Berkehendak, Maha segala-galanya.

Walaupun manusia mengatakan Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta tapi di saat yang bersamaan manusia bersikap seolah-oalah Tuhan tidak tahu bagaimana mengatur ciptaan-Nya. Tuhan mungkin masih ada di tempat-tempat ibadah tapi Tuhan ditinggalkan ketika membangun, ketika berekonomi, ketika berteknologi, ketika bernegara. Tuhan tidak dibawa ketika berpikir, berfalsafah, bermoral, beretika, dan bermasyarakat.

Akibatnya manusia hilang tempat mengadu. Hilang tempat merujuk. Hilang tempat berserah diri dan bergantung. Hilang tempat meminta pertolongan. Hilang persatuan dan kasih sayang. Manusia berkrisis dan berperang. Kejahatan berleluasa. Timbul kezaliman dan penindasan sehingga manusia cemas dan ketakutan. Ini akibat manusia meninggalkan Tuhan. Semoga nasehat seorang Sang Syeikh sembilan abad lampau bermanfaat untuk kita.   

Syeikh Abdul Qadir Al Jailani (1077-1166). Lahir di kota Jailan dan kemudian tinggal di Baghdad. Seorang ulama besar bermahzab Imam Syafi’i. Beliau adalah pengasas tarekat Qadiriyah yang berkembang menjadi salah satu tarekat terbesar di dunia termasuk di Indonesia. Sebuah tarekat dipimpin oleh seorang mursyid (guru yang bisa memimpin hati) yang terbuka mata batinnya sehingga dapat melihat ruhani seseorang (khasyaf) yang seseorang itu sendiri tidak dapat melihatnya. Oleh karena itu, seorang muryid bisa menasehati dan memberikan latihan untuk membersihkan hati dan mendidik nafsu para muridnya. Guru mursyid ini sangat sedikit jumlahnya. Imam Ghazali mengibaratkan mencari guru mursyid seperti mencari belerang merah. Beliau sendiri memiliki 1000 orang guru dengan satu guru yang mursyid.

[Story taken from "Siraman Minda-Seri Motivasi 10" by Major (B) Abu Dzarin Taharem ]

A Question of A Life Time (1)

November 26th, 2005 by easternearth

Dapat kita lihat berbagai macam aktivitas yang dilakukan manusia di muka bumi ini. Berbeda orang berbeda juga yang dilakukannya. Setiap perbuatan kita tentu ada maksud dan tujuannya. Tujuan-tujuan itu tidak terlepas dari pemahamanan kita akan suatu fenomena. Ketika manusia menyadari fenomena dirinya adalah makhluk hidup, maka kita akan lihat bahwa hampir seluruh aktivitas yang dilakukan oleh manusia adalah untuk mempertahankan eksistensinya. Tapi pengertian eksistensi ini ternyata berbeda-beda. Bagi sebagian manusia eksistensinya adalah cukup sekedar hidup jasad lahiriahnya. Bagi sebagian yang lain, baru merasa eksis jika ide-ide dan pemikirannya hidup. Sementara sebagian yang lain, eksistensi diri adalah penguasaan sumberdaya alam, ekonomi atau ilmu pengetahuan, kekuasaan atas manusia lain, pengakuan masyarakat berupa gelar, jabatan atau popularitas. Masih banyak lagi hal-hal yang dinilai sebagai parameter eksitensi diri seorang anak manusia. Maka berlomba-lombalah manusia mengejar itu semua.

Semua berawal dari bagaimana manusia menyikapi fenomena bahwa dirinya adalah sesuatu yang hidup yang memiliki kesadaran dan kemampuan untuk merekayasa alam di sekitarnya. Tapi ternyata hasilnya, justru kita lihat sebuah sejarah peradaban manusia yang kelam dan bergelimang air mata dan darah. Setiap orang menginginkan kebahagiaan dan bukan air mata, tapi mengapa sedikit sekali orang yang mendapatkan dalam hidupnya? Di manakah letak kesalahan bangsa manusia yang sudah ribuan tahun hidup di muka bumi ini?

Jika kita tarik perjalanan peradaban manusia ini, semuanya akan kembali pada sebuah titik. Di titik inilah segala sesuatunya berawal. Titik ini adalah sebuah pertanyaan: "Mengapa manusia hidup?" Disadari atau tidak, setiap manusia akan menjawab pertanyaan ini sebelum melangkah lebih jauh dalam kehidupannya. Sebuah pertanyaan sederhana yang akan mencorak seluruh perjalanan hidup seorang manusia. Tepat menjawab pertanyaan ini maka tepatlah perjalanan hidupnya. Gagal menjawab pertanyaan ini maka gagallah hidupnya.

Maka bagi sebagian manusia yang menyadari pentingnya untuk menjawab pertanyaan ini, berlomba-lombalah mereka menjawabnya. Sudah ribuan tahun sejak kompetisi ini dimulai. Mereka inilah golongan filsuf dan inilah yang menjadi akar ilmu filsafat. Kegelisahan para filsuf akan makna kehidupan membawa mereka pada pergolakan yang tidak pernah berakhir. Itulah mengapa filsuf-filsuf klasik di era Yunani bahkan sampai ke abad pertengahan, banyak berorientasi pada gagasan akan adanya sesuatu penjelasan yang bisa menjawab setiap pertanyaan dalam hidup manusia. Berbagai jawaban sudah dilontarkan tapi kegelisahan itu justru menjadikan dari satu pertanyaan berkembang menjadi jutaan, milyaran, trilyunan. Dan hasilnya, sejarah panjang kegelisahan para filsuf yang dalam beberapa abad terakhir filsafat berkembang semakin pragmatis yang akhirnya melahiran ideologi2 modern yang juga gagal menghadirkan kebahagiaan dalam peradaban manusia. Dalam satu abad terahir saja sudah berapa ideologi berkuasa di muka bumi ini. Hasilnya: dua kali perang dunia, kelaparan, keterbelakangan, pertentangan antar klas sosial, pemusnahan etnis dan sebagainya. Dalam lingkup yang lebih kecil: pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, perampokan, korupsi, inflasi, kerusuhan massal, terorisme, suicide bombing adalah sajian sehari-hari di layar televisi kita.

Maka lagi-lagi berlomba-lombalah manusia mencari solusinya. Sebagaian ahli mengatakan karena lemahnya law enforcement, yang lainnya menyebutkan kesenjangan sosial adalah penyebabnya, yang lainnya lagi menuduh adanya sebuah konspirasi internasional yang mendalanginya. Bermacam-macam usaha pun dicoba. Hasilnya, manusia masih belum bahagia. Masih  tetap seperti ribuan tahun silam, masih berkubang darah dan air mata.

Permasalahan manusia tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan permainan tambal sulam. Ibarat kanker ganas yang tidak akan pernah bisa disembuhan dengan sekedar pembedahan, kemoterapi dan radiasi jika ketidakseimbangan tubuh yang memunculkan kanker itu tidak kembalikan seperti sediakala. Kita harus mencari solusi permasalahannya sampai ke satu titik pusat segala permasalahan. Kita harus menyelusuri kembali perjalanan pemikiran manusia, ideologi, sejarah dan filsafat hingga kita kembali pada satu titik yang dari sanalah segalanya dimulai. Satu titik sederhana dan kita akan mengambil arah yang berbeda: "Mengapa manusia hidup?"

[continued to part 2...]